Dimanakah Allah? Apakah Allah ada dimana-mana? Atau dilangit? Pertanyaan yang sejak dahulu hingga sekarang masih diperdebatkan. Dan banyak umat Islam yang secara pukul rata mengkafirkan pendapat yang lain. Banyak diantara mereka tidak mempelajari seluruh dalil, hanya mengikuti dan taqlid pada golongannya tanpa memeriksa kebenaran pendapat golongannya dan tanpa melihat dalil-dalil yang dibawa pendapat lain. Dan ironisnya banyak yang dihinggapi hawa nafsu dan menfitnah golongan yang berpendapat lain dengan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan. Naudzubillah...
Padahal sudah jelas Rasulullah bersabda : Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga dia mencintai suatu kebaikan ada pada saudaranya sebagaimana dia mengharapkan kebaikan itu ada pada dirinya sendiri. [HR. Al-Bukhari kitab al-Imaan (no. 10), Muslim kitab al-Imaan(no. 45), At-Tirmidzi kitab Shifatul Qiyaamah war Raqaa-iq wad Dur'i (no. 2515); an-Nasa-i kitab al-Imaan wa Syaraa-i'uhu (no. 5016); Ibnu Majah kitab al-Muqaddimah (no. 66), Ahmad (no. 11591), ad-Darimi kitab ar-Raqaa-iq (no. 2740)].
Kenapa harus dengan mencela? Kenapa harus dengan membodoh-bodohkan? Bukankah kita mengharapkan kebaikan ada pada saudara kita? Jika kita menasehati dengan mencela, apakah dia mau menerima nasehat kita? Ada dimana tingkat keimanan kita jika kita tega saudara kita dalam kekafiran? Ada dimana tingkat keimanan kita jika kita rela saudara kita terjerumus dalam api neraka?
Janganlah kalian saling mengkafirkan, nasehati saudaramu jika salah, dan pelajari kenapa mereka berfikir demikian dan luruskan kesalahannya.
Alangkah indahnya jika umat Islam saling menasehati, dan ikhlas dalam menerima dan memberi nasehat serta tidak menginginkan sesuatu kecuali hanya kebaikan pada sesama saudaranya.
Sungguh benar Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang telah berkata: “Pertempuran (perselisihan) antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam” (Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah, hal 96)
Ada beberapa pendapat tentang jawaban pertanyaan ini
1. Allah ada dimana-mana (tanpa tempat) diyakini oleh jahmiyah, zindiq, mu’tazilah, mu’athilah dan asy’ariyah.
2. Allah ada di langit/ istiwa’ diatas Arsy, tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan).
3. Allah beristiwa sebagaimana makhluk (menyerupakan dengan makhluk) golongan ini disebut musyabbihah.
4. Tidak berpendapat.
Pendapat siapakah yang benar? Dan untuk menjawab pertanyaan ini sesungguhnya tidak ada yang berhak berkata tentang Allah, kecuali Allah sendiri. Dan manusia tidak berhak berkata tentang Allah kecuali dengan apa apa yang telah diberitakan NYA kepada kita, baik dari firmanNya, hadits dan keterangan para ulama salaf.
Dalam Alquran, Allah berfirman :
1. Surat As-Syura ayat 4
”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat”
2. Surat Al ikhlas ayat 4
”Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya”
3. Surat Al-A’raf ayat 54
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arasy...”
4. Surat Yunus ayat 3
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arasy...”
5. Surat Ar-Ra’du ayat 2
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arasy...”
6. Surat Thaahaa ayat 5
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang di atas 'Arsy beristiwa’”
7. Surat Al-Furqaan ayat 59
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia...”
8. Surat As-Sajdah ayat 4
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'arsy...”
9. Surat Al-Hadid ayat 4
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy...”
10. Surat Huud ayat 7
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”
11. Surat Al-Mulk ayat 16
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang”.
12. Surat Al Mu’min ayat 36-37
“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.”
Hadits
1. Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
”Beliau Shalallahu alaihi wassalam bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?
Jawab budak perempuan : ”Di atas langit.”
Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?
Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”
Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Hadits shahih. (Imam Malik, Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwaththo juz 3 halaman 5-6; Muslim (2/70-71); Abu Dawud (No. 930-931); Nasa’i (3/13-14); Ahmad (5/447, 448-449); Ad-Daarimi 91/353-354) Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105) Imam Ibnul Jaarud”Al-Muntaqa” (No. 212); Imam Baihaqy ”Sunanul Kubra” (2/249-250); Imam Ibnu Khuzaimah,”Tauhid” (hal. 121-122); Imam Ibnu Abi ‘Aashim, As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albanni); Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi,”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah); Imam Al-Laalikai, ”As-Sunnah ” (No. 652). Imam asy-Syafi’i "al-‘Umm" (5 /298).
2. " Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari (yang dipercaya) Dzat yang ada di langit". [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi ; Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]
3. “Ketika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menciptakan makhluk-Nya, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menuliskan di dalam kitab-NYa (Lauh Mahfudz) yang ada di sisi-Nya diatas Arsy ‘Sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3022, 6969, dan 6986), dan Muslim dalam Shohih-nya (2751)]
4. “Tidakkah kalian percaya kepadaku? Sementara aku dalam keadaan beriman kepada Yang dilangit. Datang kepadaku berita dari langit di waktu pagi hari dan petang…”. [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (4094), Muslim dalam Shohih-nya (1064)]
5. Dalam Shahih Bukhari di Bab Firman Allah : Wa kaana ‘Arsyuhu ‘alal-Maa’, Anas bin Malik bercerita tentang Firman ini :
Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam (yang lain), ia berkata : “Yang menikahkan kalian (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah ta’ala yang berada di atas tujuh langit”.
Dalam riwayat lain : Zainab binti Jahsy berkata :
“Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit” [HR. Bukhari 8/176].
6. “Apabila kalian meminta (berdoa) kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tengah (letaknya) dan paling tinggi. Dan di atasnya terletak ‘Arsy Ar-Rahmaan (Allah)” [HR. Al-Bukhari no. 2790,7423; Ahmad 2/335,339; dan Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 581]
7. Dari Al-’Abbas bin ’Abdil-Muthallib radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dan bumi ?” Kami menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : ”Antara langit dan bumi jaraknya 500 tahun perjalanan, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya 500 tahun perjalanan, sedangkan ketebalan masing-masing langit adalah 500 tahun perjalanan. Antara langit yang ketujuh dengan ’Arsy ada samudera, dan antara dasar samudera itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dan bumi. Allah ta’ala di atas semua itu dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam”. [HR. Abu Dawud, Kitaabut-Tauhiid Alladzii Huwa Haqqullaahi ’alal-’Abiid, hal. 149, tahqiq : ’Abdul-’Aziiz bin ’Abdirrahmaan As-Sa’iid dll.; Cet. Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’uud, Riyadl].
8. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:
“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy.” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)
9. Hadits tentang Isra’ Mi’raj
... kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit; ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam. Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab. 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Dan ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur. Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. [ HR. Bukhari, Muslim dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak; dan lafal hadits ini berdasarkan Imam Muslim]
10. Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :
“Arsy itu di atas air dan Allah di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” [HR Al-Baihaqiy, Al-Asmaa’ wash-Shifaat, 2/290, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwadiy. Muhaqqiq juga menisbatkan riwayat itu pada Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid 1/232-234; Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah no. 81 dan Ar-Radd ‘alal-Mariisiy hal. 73,90,105; Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir 9/228 dan Al-Mu’jamul-Kabiir nomor 8987, dengan sanad shahih]
11. Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma pernah berkata
“Allah menciptakan tujuh langit. Dia menjadikan air di atas langit ketujuh, menciptakan ‘Arsy di atas air. Dan Dia juga menjadikan/mengadakan matahari, bulan, bintang, dan meteor di langit dunia” [HR. Al-Baihaqiy, Al-Asmaa’ wash-Shifaat, 2/292 no. 853; dengan sanadnya shahih].
Pendapat para ulama
1. Sulaiman At-Taimiy rahimahullah, seorang imam tabi’in penduduk Bashrah, pernah berkata :
“Apabila aku ditanya : ‘Dimanakah Allah tabaaraka wa ta’ala ?’. Maka aku akan menjawab : ‘Di (atas) langit’. Apabila ia bertanya : ‘Dimana ‘Arsy-Nya sebelum Ia menciptakan langit ?’. Maka akan aku jawab : ‘Di atas air’. Jika ia kembali bertanya kepadaku : ‘Lantas, dimana ‘Arsy-Nya sebelum Ia menciptakan air ?’. Maka akan aku jawab : ‘Aku tidak tahu” [HR. Al-Laalika’iy, Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 671; Ibnu Abi Syaibah, Kitaabul-‘Arsy no. 15; Tafsir Ibnu Jarir no. 30609; Abusy-Syaikh; Al-‘Adhamah no. 194. Dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Durrul-Mantsur 7/337 dan ia menisbatkannya pada ‘Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Abusy-Syaikh – takhrij dinukil dari Aqwaalut-Taabi’in fii Masaailit-Tauhiid wal-Iman oleh ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah Al-Mubdil, hal. 941; Daarut-Tauhiid, Cet. 1/1424 H].
2. Adl-Dlahhak bin Muzaahim rahimahullah berkata :
“Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka dimanapun mereka berada” [Imam Adz-Dzahabiy, Al-‘Arsy, 2/201-202; dengan sanad shahih].
3. Al-Imam Al-Auza’iy rahimahullah berkata:
“Kami dan banyak sekali dari kalangan tabi’in mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, dan kami beriman kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh As-Sunnah” [Al-Baihaqiy, Al-Asmaa wash-Shifaat, hal. 304. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata dalam Fathul-Majiid hal. 533 : “Dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy dalam Ash-Shifaat, para perawinya adalam para imam tsiqaat”]
4. Al-Imam Ishaaq bin Rahawaih rahimahullah :
Allah berfirman : ‘Allah Yang Maha Pemurah beristiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya’ (QS. Thaahaa : 5). Para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy ber-istiwaa’, dan Dia mengetahui segala sesuatu (walaupun) di bawah bumi ketujuh yang paling dalam.” Imam Adz-Dzahabi berkata : “Perhatikanlah ijma’ yang dinukil oleh sang imam terhadap masalah yang mulia ini, sebagaimana yang dikutip di jamannya oleh Qutaibah” [Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar, hal. 132].
Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah)[ Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi.]
5. Al-Imam Al-Muhaddits Ibnu Abi Haatim Ar-Raaziy rahimahullah :
“Aku pernah bertanya kepada ayahku (Abu Haatim) dan Abu Zur’ah mengenai madzhab Ahlus-Sunnah. Maka mereka berdua (Abu Haatim dan Abu Zur’ah) berkata : ‘Kami menjumpai ulama diseluruh pelosok negeri. Madzhab mereka tentang hal ini bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Sedangkan Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk dari segala sisinya. Takdir yang baik dan yang buruk itu berasal dari Allah ta’ala, dan bahwasannya Allah ta’ala berada di atas ‘Arasy-Nya, berbeda dengan makhluk-Nya; sebagaimana Dia sifatkan atas diri-Nya dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) dan melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tanpa menanyakan bagaimana” [Shahih; lihat Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar oleh Imam Adz-Dzahabi, hal. 138, tashhih : ’Abdurrahman Muhammad ’Utsman; Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 1/1388 H].
6. Al-Hafizh Al-Baihaqy-rahimahullah- berkata
“Ayat-ayat itu (diatas) merupakan dalil yang membatalkan pendapat orang Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Dzat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada dimana-mana”.
(Al-I’tiqod (1/114))
7. Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata :
“ Dalil (Al Mu’min: 36-37) yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka itu termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.”[ Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/441]
Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Dalil-dalil yang muhkam (yang begitu jelas) menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalil-dalil ini hampir mendekati 20 macam dalil”. [Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/437]
8. Al-Qurthuby -rahimahullah- berkata,
“Tidak ada seorang salaf pun yang mengingkari bahwa Allah beristiwa' di atas Arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan karena ia merupakan makhluk Allah yang terbesar. Para salaf tidak (berusaha) mengetahui cara (kaifiyyah) Allah beristiwa', karena sifat beristiwa' itu tidak bisa diketahui hakekatnya (bagaimana beristiwa').
“Jahmiyyah terbagi menjadi 12 kelompok … (di antaranya) Al-Multaziqoh, mereka menganggap bahwa Allah berada di mana-mana …”. (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (7/219))
9. Imam Malik -rahimahullah- berkata :
“Sifat istiwa’ itu diketahui maknanya secara bahasa (jelas arti dan maknanya), (namun) tidak boleh ditanyakan (bagaimana) cara Allah beristiwa', dan pertanyaan tentang (bagaimana) cara Allah beristiwa' merupakan bid’ah dan ajaran baru. Allah berada di langit, sedang ilmu-Nya berada di mana-mana, tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu-Nya”. (Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/673))
10. Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- berkata,
“(ayat diatas) Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas Arsy, di atas langit ketujuh sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu juga merupakan hujjah mereka terhadap orang-orang Mu’tazilah yang berkata: “[Allah berada di mana-mana, bukan di atas Arsy]”.Dalil yang mendukung kebenaran madzhab Ahlul Haq/Ahlis Sunnah dalam hal ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Ar-Rahman beristiwa' di atas Arsy” dan firman-Nya Azza wa Jalla: “ Kemudian Dia beristiwa' di atas Arsy…”. (At-Tamhid (7/129))
11. Shodaqoh-rahimahullah- berkata,
“Saya mendengar At-Taimy berkata,“Andaikan aku ditanya : Dimana Allah Tabaraka wa Ta’ala?, niscaya aku akan jawab: Dia di langit”. [ Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/671)]
12. Imam Ahmad bin Hambal-rahimahullah- pernah ditanya,
“Allah -Azza wa Jalla- berada di atas langit yang ketujuh, di atas Arsy terpisah dari makhluk-Nya. kemampuan dan ilmu-Nya berada di mana-mana?”
Beliau Jawab : “Ya, Dia berada di atas Arsy. Sedang tidak ada satu tempat pun yang kosong dari ilmu-Nya”. [ Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401-402/674)]
Imam Ahmad -rahimahullah- juga berkata, “Jika anda ingin mengetahui bahwa seorang Jahmiyyah itu berdusta atas nama Allah, yaitu saat ia menyangka bahwa Allah berada dimana-mana”.[Lihat Ar-Rodd ala Az-Zanadiqoh wa Al-Jahmiyyah (1/40)]
13. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
“Adapun firman Allah Ta’ala : “Lalu Dia beristiwa' di atas Arsy”.
Orang-orang memiliki pendapat yang sangat banyak dalam masalah ini, tapi sekarang bukan saatnya kita paparkan. Dalam masalah ini kita harus mengikuti madzhab Salafush Sholeh, seperti Imam Malik, Al-Auza’iy, Ats-Tsaury, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rohawaih, dan lainnya dari kalangan ulama-ulama kaum muslimin baik dulu maupun sekarang. Madzhab mereka adalah menjalankan dan memahami sifat-sifat tersebut sebagaimana ia datang (sebagaimana teksnya "beristiwa'"), tanpa menanyakan/menetapkan/merubah cara/bentuknya (menafsirkannya menjadi berkuasa), atau diserupakan dengan sifat makhluk dan dihilangkan maknanya (aslinya). Sedang yang terbayang dalam benak orang-orang Musyabbih (orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya) adalah tidak pantas bagi Allah, karena tidak ada seorang makhlukpun yang menyerupai-Nya [‘Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Sedang Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat’]. Bahkan inti permasalahannya sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, seperti Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’iy (guru imam bukhari). Beliau berkata: ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang menolak sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada penyerupaan pada sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya. Barangsiapa yang menetapkan (sifat) bagi Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat yang gamblang, dan hadits-hadits shohih dengan bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah dan menyucikan segala kekurangan dari Allah, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang lurus”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (al a’raf : 54)(2/221)]
14. Imam Asy syafi’i berkata,
“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan Atstsauri, Imam Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.”[ Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124; Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165; I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4; Al-Hakawi di dalam kitab Aqidah Asy-Syafi’i]
15. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- berkata :
“Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”.
(HR Imam Al Hakim, Ma’rifah “Ulumul Hadits” hal : 84 dengan riwayat shahih).
16. Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- :
“Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya) ”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).
17. Imam Ad-Daarimi telah berkata:
”Di dalam hadits Rasulullah SAW (hadits no 1) ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi, tidaklah ia seorang mu’min”.[ Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah (39)]
“Dan sungguh telah ada kesepakatan/ijma’ kaum muslimin bahwasannya Allah ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya, (yaitu) berada di atas langit-langit-Nya” [Ar-Radd ‘alaa Bisyr Al-Maarisiy, 1/340 – dinukil melalui perantaraan Al-Asyaa’irah fii Mizaani Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Faishal bin Qazzaar Al-Jaasim, hal. 433; Al-Mabaratul-Khairiyyah, Cet. 1/1428 H].
18. Al-Imam Al-Haafidh Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah :
“Telah menjadi satu kesepakatan dari kaum muslimin dari kalangan shahabat, tabi’iin, dan seluruh ulama kaum mukminin bahwasannya Allah tabaraka wa ta’ala di atas ‘Arsy-Nya, (yaitu) di atas langit-langit-Nya, berbeda dengan makhluk-Nya. Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Tidak ada yang menolak dan mengingkarinya, kecuali orang yang menganut madzhab Huluuliyyah (Wihdatul-Wujud)” [Al-Ibaanah, 3/136 – dinukil melalui perantaraan Al-Asyaa’irah fii Mizaani Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 435]
19. Abdullah Ibnul Mubarok juga mengatakan hal ini :
Ia bertanya pada Sufyan Ats Tsauri mengenai firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4). Sufyan Ats Tsauri menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu Allah (Kemaha Tahuan). [‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137-138]
Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla. Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitupula Imam Ahmad sependapat dengan kami.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 149. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Al Hamawiyah dan Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 152]
Berdasar dalil yang sudah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa madzhab Ahlus Sunnah menyatakan bahwa Allah di atas langit, istiwa’ di atas Arsy, memahami sebagaimana teksnya, namun tanpa tahrif (mengubah menjadi makna lain), ta’thil (menafikan/meniadakan/menolak), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan), dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Ini adalah aqidahnya para nabi, para sahabat, para tabi’in, dan para pengikut tabi’in sebagai generasi terbaik dari umat ini dalam memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, dan sebab sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam- diucapkan oleh beliau.
Adapun aqidah yang menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana/tanpa tempat, bukanlah merupakan aqidah Ahlus Sunnah, tetapi merupakan aqidah ahli bid’ah yang batil berdasarkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah di atas Arsy beserta keterangan Ulama Ahlus Sunnah yang telah kami sebutkan.
Dalil pendapat Allah ada dimana mana/tanpa tempat dan bantahannya
1. “Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan “. (Al-An’am : 3)
kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :
“Innahu Fii Qulli Makaan”
“Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !”.
Maha Suci Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini !
Bantahan :
Adapun maksud ayat ini sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir ibnu katsir ialah :
Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan/ Dituhankan) oleh mahluk yang di langit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.
Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui”. (Az-Zukhruf : 84)
Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).
Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (Az-Zukhruf : 84) menerangkan : “Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : “Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata “Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.
Bagi Allah adalah perumpamaan/misal yang lebih tinggi dari itu (Fatwa Hamawiyyah Kubra:73).
2. Pendapat Allah lebih dekat dari urat leher, dengan dalil :
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].
“Dan Kami lebih dekat dengannya daripada kamu” [QS. Al-Waqi’ah : 85].
Tapi, apakah dengan begitu, kita berpendapat bahwa Allah menyatu dengan makhluknya? atau bagaimana? apa yang dimaksud dekat itu?
Makna kedekatan dalam dua ayat di atas tidaklah bermakna bahwa Allah menyatu dengan hambanya (Al-Hulul/Wahdatul-Wujud). Ini adalah aqidah bathil. Makna kedekatan dalam dua ayat tersebut adalah kedekatan malaikat terhadap manusia. Perinciannya adalah sebagai berikut :
Pada ayat pertama (QS. Qaaf : 16), sifat “dekat” dibatasi pengertiannya dengan penunjukkan ayat tersebut. Selengkapnya, ayat di atas lengkapnya berbunyi :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya; (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan (seseorang) melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [QS. Qaaf : 16-18].
Firman Allah [إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَانِ] : “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya” ; adalah dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah ilmu Allah/Kemaha Tahuan Allah terhadap semua amalan makhluk.
Pada ayat kedua (QS. Al-Waqi’ah : 85),
kata “dekat” di situ berkaitan dengan kekuasaan Allah atas nyawa seseorang yang sakaratul-maut. Sebagaimana ayat sebelumnya :
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (terjaga), dan Kami lebih dekat kepadanya (nyawa itu) daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat (mengetahui), maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) (yaitu, jika punya kekuatan), Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (pada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?,” (QS. Al-Waqi’ah : 83-87)
Padahal yang hadir dalam sakaratul-maut adalah para malaikat berdasarkan firman Allah ta’ala :
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami akan mewafatkannya, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya” [QS. Al-An’am : 61.]
Sehingga, kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan malaikat maut yang diutus Allah untuk mencabut nyawa seorang hamba.
Adapun Allah adalah berada di atas langit dan istiwa’ di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya yang telah kami sebutkan.
3. Pendapat bahwa Allah bersama kita/orang-orang yang sabar
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al Anfal : 46)
Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ Allah bersama kita (hamba-Nya) yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala pada Surat Al Baqarah: 186:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)
Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di). Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel, bersebelahan atau bersatu dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.
4. Menafsirkan istiwa’ dengan istawla (menguasai).
Dengan analogi, beristiwa' adalah perbuatan makhluk,
Sesungguhnya tidak pantas seseorang berkata sesuatu tentang Allah, kecuali apa yang sudah dikhabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman sesuai dengan bahasa yang difahami manusia, dan Tidak boleh menafsirkan istiwa’ beristiwa' dengan istawla (menguasai), karena keterangan seperti itu tidak pernah didapatkan dalam riwayat para salaf. Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’iy (guru imam bukhari). Beliau berkata: ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Namun Barangsiapa yang menolak sesuatu yang Allah telah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir.(Tafsir ibnu katsir (Al-A’raf :54))
Memang dalam bahasa Indonesia tidak ada kata yang lebih tepat, maka tidak tepat jika diterjemahankan dengan bersemayam, karena bersemayam lebih cenderung ke makna duduk. Dan Maha Suci Allah dari penyamaan tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Malik, “Sifat istiwa’ itu sudah jelas makna bahasanya (jelas arti dan maknanya), (namun) tidak boleh ditanyakan (bagaimana) cara Allah istiwa’ , dan pertanyaan tentang (bagaimana) cara Allah istiwa’ merupakan bid’ah (Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/673)
Penafsiran ini (istiwa’ menjadi istawla) seperti penafsiran yang dilakukan oleh orang-orang yahudi, sebagaimana penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang Yahudi agar mengatakan hiththatun (bebaskanlah kami dari dosa), tetapi mereka mengatakan hinthatun (biji gandum) dengan niat membelokkan dan menyelewengkannya.
Dan Allah memberitakan kepada kita bahwa Dia ‘Alal ‘Arsy istawa (tinggi di atas ‘Arsy), tetapi para tukang takwil mengatakan istawlaa (menguasai).
Perhatikanlah, betapa persis penambahan “lam” yang mereka lakukan istawaa menjadi istawlaa dengan penambahan ‘nun’ yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi “hiththatun” menjadi “hinthatun” (nukilan Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam Alfirqotun Najiyah oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu).
5. Bertentangan dengan sifat 20 Asy ‘ariyah.
Suatu kaidah dalam Islam disimpulkan berdasarkan Alqur’an dan Sunnah. Jadi suatu penetapan kaidah tidak bisa mendahului Alquran dan sunnah. Jika kaidah yang ditetapkan bertentangan dengan ayat dan Hadits shahih yang lain maka bukan ayat atau haditsnya yang disalahkan/dirubah/ditolak/disesuaikan, tapi kaidah tersebut yang salah dalam penyimpulannya.
Penetapan sifat 20 paham Asy’ariyah menjadi perdebatan yang sangat panjang. Bagi para penganut faham ini, mereka mengaku inilah paham ahlus sunnah, para salaf dan para nabi. Namun penitsbatan kepada pemahaman Asy’ariy sudah cukup menjadi bukti bahwa sanad pemahaman ini terhenti dan merupakan pemahaman baru yang tidak dikenal pada zaman nabi.
Jadi tidak pantas kita menolak/merubah makna ayat dan hadits karena mendahulukan pendapat/kaidah ulama atau bahkan shahabat, berdasarkan dalil :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat : 1)
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab 36)
Ibnu Abbas berkata: “Aku khawatir akan jatuh batu dari langit (mereka akan binasa). Aku katakan, ”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, sedang mereka (membantah) dengan mengatakan, “Abu Bakar dan Umar berkata.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abdil Barr)
Tidaklah pantas bagi seorang yang beriman jika dibawakan dalil yang jelas dari Alquran dan sunnah, tapi menolaknya dengan membawakan perkataan ulama. Dan tidaklah pantas seorang yang beriman mendahulukan pendapat/kaidah ulama daripada dalil dari Alqur’an dan Hadits yang telah jelas.
Kaidah Asy'ariyah Mukholafatu Lil Hawaditsi memang didasarkan pada Ayat Alquran Surat As-Syura ayat 4
”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat”
Namun keliru dalam penerapannya. Karena tidaklah pantas berbicara tentang Allah kecuali yang diberitakan Allah sendiri. Berikut analoginya :
Si Fulan menyatakan bahwa dia adalah lelaki sejati, tidak ada sifat kewanitaan pada dirinya. Namun pada kesempatan yang lain dia menyatakan bahwa dia bisa memasak.
Lalu apakah pantas orang lain menolak pernyataan kedua, dengan berkata "dia itu lelaki sejati dan tidak memiliki sifat kewanitaan. Tidak mungkin si fulan bisa memasak, memasak itu pekerjaan wanita, maka memasak itu mungkin maksudnya bukan memasak dalam arti yang sebenarnya, mungkin bisa diganti dengan kata yang lain"
Apakah pantas analogi ini? padahal si fulan sendiri mengklaim dirinya bisa memasak.
Dan Allah lebih dari segala permisalan yang sedemikian.
Lalu apakah pantas analogi Batil ini :
"Kehendak adalah keinginan,
keinginan adalah bagian dari nafsu,
nafsu adalah salah satu sifat yang dimiliki makhluk,
jadi Allah tidak bisa dikatakan berkehendak, karena kehendak itu sifat makhluk, oleh karena itu harus diganti dengan kata yang lain"
Padahal Allah mensifatkan diri-NYA berkehendak.
Begitu juga analogi batil ini :
"Melihat itu sifat makhluk,
maka tidak mungkin Allah memiliki sifat yang sama dengan makhluk, maka harus ditafsirkan dengan kata yang lain"
padahal Allah telah mensifatkan pada diri NYA Maha Melihat.
Maha Suci Allah dari apa yang telah mereka sifatkan
Sifat Berkehendak, Maha Melihat telah jelas dan dapat dipahami maknanya, namun tidak pantas bagi kita tahrif/merubah makna sifat tersebut, ta'til/menolak sifat tersebut, takyif/menanyakan bagaimana dan tamtsil/menyerupakan sifat tersebut dengan makhluk. Tetapi diterima sebagaimana dia datang,
Tentu berbeda kehendak Allah dengan kehendak makhluk,
Tentu berbeda Maha Melihat Allah dengan melihatnya makhluk.
Tentu berbeda istiwa'nya Allah dengan semayamnya makhluk
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Malik-rahimahullah- berkata :
“Sifat istiwa’ itu diketahui maknanya secara bahasa (jelas arti dan maknanya), (namun) tidak boleh ditanyakan (bagaimana) cara Allah beristiwa', dan pertanyaan tentang (bagaimana) cara Allah beristiwa' merupakan bid’ah dan ajaran baru. Allah berada di langit, sedang ilmu-Nya berada di mana-mana, tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu-Nya”. (Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/673))
6. Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham ini dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah diluar dari diri-Nya?”
Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal ini:
o Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!
o Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
o Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”
Sungguh jelas ayat dan hadits yang menjelaskan masalah ini, sungguh jelas pula bantahan ulama tentang kekeliruan pendapat Allah ada dimana-mana, tanpa tempat. Selain keliru dalam memahami ayat, penganut pemahaman ini jelas-jelas telah menolak hadits-hadits shahih (sudah disebutkan diatas) yang menyebutkan bahwa Allah ada di atas langit, serta menyelisihi pemahaman para salaf, baik shahabat serta para ulama ahlus sunnah.
Bahaya pendapat Allah ada dimana-mana :
1. Menafikan sifat Allah (Maha tinggi).
2. Menganggap Allah juga berada di tempat-tempat yang hina.
3. Pintu masuk pada pemikiran wihdatul wujud/al hulul/bersatu dengan makhluk.
4. Pintu masuk pada pemikiran perbuatan hamba adalah perbuatan Allah.
Naudzubillahi mindzalik, Maha Suci Allah terhadap apa yang mereka tuduhkan dan mereka fahami. Para ulama berbeda pendapat terhadap kedudukan penganut ajaran ini, ada hanya membid’ahkan, namun sepakat mengkafirkan jika telah menolak dalil-dalil yang shahih, meniadakan sifat Allah yang sudah Allah tetapkan untuk diri Nya dan meyakini adanya wihdatulwujud. Namun hendaknya umat Islam berhati-hati dalam mengkafirkan, karena tentu berbeda antara yang hanya ikut-ikutan, orang-orang yang sudah bersungguh-sungguh berijtihad namun salah ijtihadnya atau dengan orang yang sudah mengetahui dalil namun menolaknya. Wallahu a’lam
Pendapat yang menyerupakan istiwa' sebagaimana dengan makhluk
Pendapat ini jelas bertentangan dengan Firman Nya dalam Surat Asy syura : 4
”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat” (QS Asy-Syura :4)
Ibnu katsir mengatakan : “Sedang yang terbayang (penyerupaan) dalam benak orang-orang Musyabbih (orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya),
Maha suci Allah dari apa yang mereka tuduhkan, karena tidak ada seorang makhlukpun yang menyerupai-Nya. Bahkan inti permasalahannya sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, seperti Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’iy. Beliau berkata : “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang menolak sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada penyerupaan pada sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya. Barangsiapa yang menetapkan (sifat) bagi Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat yang gamblang, dan hadits-hadits shohih dengan bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah dan menyucikan segala kekurangan dari Allah, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang lurus”. [Tafsir Ibnu Katsir (2/221)]
Pendapat orang yang diam/ tidak memberikan pendapat
Adapun orang yang “diam” (tawaqquf) dengan mengatakan : “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan! Allah Rabbul ‘Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwa' di atas ‘Arsy-Nya supaya kita mengetahui. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kita tidak tahu” nyata telah berpaling dari maksud Allah (menolak ayat yang sudah jelas). Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang menta’wilnya.
Kesimpulan
Perselisihan umat Islam memang tidak dapat terelakkan. Tak terkecuali dalam penetapan sifat-sifat Allah, salah satunya adalah penetapan sifat dimana Allah. Semua berpendapat, membawakan dalil dan merasa pendapatnyalah yang benar. Tak cukup sampai disitu, para ulama terdahulu diakui dan diklaim mendukung dan berada di pihaknya. Dengan mengutip penggalan-penggalan yang sesuai dengan pendapatnya tanpa memahami secara keseluruhan maksud dari ulama tersebut. Dan tidak sedikit ulama yang sama diklaim mendukung dua pendapat, dengan membawakan bukti masing-masing, akhirnya terjadilah perebutan dukungan dari ulama-ulama besar.
Terlepas dari semua itu, ukuran kebenaran dalam sebuah perselisihan bukan banyak sedikitnya pendukung, atau siapa yang mendukung, tapi ada atau tidaknya dan kuat atau tidaknya dalil yang mendukung pendapat tersebut baik dari Alqur’an dan Sunnah. Karena setiap manusia bisa berpendapat, setiap orang bisa menafsirkan (baik ulama atau orang biasa) sesuai dengan akal, sudut pandang dan tingkat pemahamannya. Dan memang sesungguhnya segala sesuatu masalah tidak terlepas dari pertimbangan, pendapat dan komentar manusia, namun orang yang beriman tidaklah dia mengambil pertimbangan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya saja. Sebagaimana firman Allah :
“jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(An nisa : 59)
Jika kita bandingkan setiap pendapat berdasarkan uraian dan dalil-dalil di atas, telah jelas bahwa pendapat Ahlussunnah tentang penetapan sifat dimana Allah, adalah Allah ada di langit/ istiwa’ diatas Arsy, tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan).
Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan hidayah kepada kita semua dan memberikan keteguhan hati untuk selalu istiqomah di jalan-Nya, serta menyatukan hati-hati kaum muslimin. Amiinn






Assalamu'laikum
BalasHapusPenjelasan yang lengkap sekali, tetapi yang masih kurang saya fahami adalah penterjemahan kata "istiwa" kedalam bahasa indonesia menjadi "bersemayam" atau ada juga yang diterjemahkan dengan "duduk" dan "Arsy" diterjemahkan dengan kata "singgasana" apakah penerjemahan tersebut sudah tepat? mohon penjelasannya..
Wassalam,
Sardi,
Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai akidah bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.
BalasHapusWaalaikumussalam warahmatullah
BalasHapusjazakallah, afwan jika balasannya terlambat
memang tidak ada berhak berkata tentang Allah, kecuali Allah sendiri, yang disampaikan melalui Rasul-NYa
Allah berfirman dengan bahasa yg dipahami manusia
Memang "istiwa" sering diterjemahkan bersemayam, "Arsy" dengan singgasana, namun tidak tepat. bersemayam lebih cenderung ke makna duduk.
Alangkah baiknya kita berhenti dikata "istiwa", menerima sebagaimana dia datang, tanpa menanyakan bagaimana, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolaknya.
wallahu a'lam