"Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya"



 photo islamic_wallpaper_hd_4.jpg

-Abu Dzaar-

"Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk mengatakan yang benar walau itu pahit,dan memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah" (HR. Ahmad 5: 159)

 photo 10414_1280x800.jpg

--Imam Malik-Rahimahullah--

"Seseorang hanya bisa menjadi baik setelah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya, dan sibuk dengan apa yang berguna baginya. jika dia telah melakukannya, pasti Allah akan membuka hatinya"(Asy-Syarbashi, Al-Aimmah Al-Arba'ah, 98)

 photo blue_landscape-wallpaper-1366x768.jpg

--Imam Ahmad bin Hanbal-Rahimahullah--

"Dasar-Dasar sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan ajaran Sahabat Rasulullah SAW berusaha meneladani dan meninggalkan segala bid'ah" (Da'a'im Minhaj Nubuwwah, Hal 57-48)

 photo Free-Download-Nature-HD-Wallpapers.jpg

--Imam Syafi’i-rahimahullah--

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190)

 photo landscape-photography-wallpaper-3.jpg

--Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam--

"Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar" (HR. Abu Dawud, no. 4800)

Jumat, 08 Juli 2011

BANTAHAN TERHADAP BUKU ‘MENITI KESEMPURNAAN IMAN’ BAGIAN II

BENARKAH RASUL TIDAK MENGKHAWATIRKAN KESYIRIKAN TERHADAP

SELURUH UMATNYA?

(BANTAHAN TERHADAP BUKU ‘MENITI KESEMPURNAAN IMAN’ BAG II)

PENDAHULUAN

Sebagian saudara kita ada yang berpendapat: “Nabi tidaklah mengkhawatirkan kesyirikan bagi kaum muslimin”. Konsekuensi dari ucapan ini adalah: “untuk apa terlalu dalam mengkaji permasalahan tauhid, toh yang paling dikhawatirkan Nabi terjadi pada umatnya bukanlah kesyirikan”. Pendapat semacam ini juga dikemukakan oleh Habib Munzir al-Musawa dalam bukunya ‘MENITI KESEMPURNAAN IMAN’ (buku yang ditulis untuk menyanggah tulisan Syaikh Bin Baz). Silakan lihat halaman 89 dan 130.



Setelah secara panjang lebar Syaikh Bin Baz menjelaskan keutamaan Tauhid dan bahaya kesyirikan, Habib Munzir justru meremehkan pemaparan tersebut dengan menyatakan (halaman 89-90):

[[

Rasul saw bersabda: “Aku sungguh tidak merisaukan syirik menimpa kalian setelah aku wafat, yang kurisaukan adalah keluasan dunia yang membuat kalian saling hantam memperebutkannya (Shahih Bukhari)

Inilah jawaban Nabi saw terhadap kekuasaan Saudi Arabia yang menguasai Haramain, mereka sangat merisaukan dan meributkan kesyirikan, namun mereka saling bunuh demi berebut kekayaan, mereka rela mengundang dan membayar ribuan pasukan AS ke negeri mereka demi membantai saudara mereka muslimin mereka sendiri demi memperebutkan minyak.

Mereka rela tidak membantu Palestina yang dibantai Israel demi naiknya harga minyak, inilah yang telah dikabarkan oleh Rasul saw “Sungguh Demi Allah aku tidak takut syirik menimpa kalian, namun yang kutakutkan adalah keluasan dunia yang kalian saling memperebutkannya” (Shahih Bukhari)

Jawaban Rasul saw ini membungkam semua lidah orang yang merisaukan syirik atas muslimin yang beribadah

]]

Kesimpulan dari tulisan Habib Munzir di atas adalah:

1. Janganlah merisaukan kesyirikan terhadap kaum muslimin, karena Nabi sendiri tidak merisaukannya.
2. Kekuasaan Saudi Arabia sangat meributkan kesyirikan mereka rela mengundang dan membayar ribuan pasukan AS ke negeri mereka demi membantai saudara mereka sendiri demi memperebutkan minyak.

Hanya syubhat poin ke-1 yang akan dibahas dalam tulisan kami ini. Sedangkan poin ke-2, kami tidak akan membahasnya panjang lebar, karena fokus pembahasan tulisan kami ini adalah untuk menjawab pertanyaan: “Benarkah Nabi tidak mengkhawatirkan kesyirikan bagi seluruh kaum muslimin?”. Bagi yang ingin mengetahui pembahasan apakah poin ke-2 yang merupakan kesimpulan dari uraian Habib Munzir itu benar atau tidak, fakta atau sekedar tuduhan, silakan membaca buku berjudul “Mereka adalah Teroris” karya al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh (edisi revisi) halaman 378 sampai 481. Pada buku itu akan dijelaskan tentang hal-hal terkait ‘Perang Teluk’, pemutarbalikan fakta yang terjadi seputar hal tersebut, dan hukum meminta tolong kepada orang kafir/ musyrik, dan semisalnya.

DALIL – DALIL SYUBHAT

Berikut ini adalah dalil-dalil yang banyak digunakan untuk mengarahkan pada kesimpulan: ‘Nabi tidaklah mengkhawatirkan kesyirikan terhadap seluruh kaum muslimin sepeninggal beliau’.

1. 1. Hadits: ‘Aku tidaklah mengkhawatirkan kalian berbuat kesyirikan sepeninggalku’

إِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا وَتَقْتَتِلُوا فَتَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Sesungguhnya tidaklah aku mengkhawatirkan kalian berbuat kesyirikan sepeninggalku, tapi aku mengkhawatirkan atas kalian berlomba-lomba (untuk kepentingan) dunia dan kalian saling berbunuhan sehingga binasa sebagaimana kebinasaan umat sebelum kalian (H.R alBukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).

1. 2. Hadits: ‘Sesungguhnya syaitan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholat di Jazirah Arab’


إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Sesungguhnya syaitan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi ia (bersemangat) untuk membikin kerusakan (permusuhan) di antara kalian (H.R Muslim).



PENJELASAN UMUM

Dua hadits di atas adalah hadits yang shohih, namun kesalahan di dalam memahaminya akan mengakibatkan kesalahan dalam menyimpulkan. Hadits pertama bahwa Nabi menyatakan : “Aku tidaklah mengkhawatirkan kalian berbuat kesyirikan sepeninggalku”, bukanlah artinya bahwa Nabi tidak mengkhawatirkan untuk seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali. Namun, ucapan Nabi ini ditujukan kepada pada para Sahabat Nabi yang sudah kokoh dalam tauhid dan keimanan. Nabi tidak menyatakan : Kalian tidak akan pernah berbuat kesyirikan lagi, atau ucapan semisalnya.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata:


وأخبر صلى الله عليه وسلم أنه لا يخشى على أمته الشرك لأن البلاد ولله الحمد فتحت وصار أهلها إلى التوحيد ولم يقع في قلب النبي صلى الله عليه وسلم أنه يقع الشرك بعد ذلك لكن لا يفهم من هذا أي من كونه لا يخاف الشرك على أمته ألا يقع فإن الشرك وقع الآن فهو موجود الآن من المسلمين من يقول إنه مسلم وهو يطوف بالقبور ويسأل المقبورين ويذبح لهم وينذر لهم فهو موجود والرسول صلى الله عليه وسلم لم يقل إنكم لن تشركوا حتى نقول إن ما وقع ليس بشرك لأن الرسول نفى أن يكون الشرك وهو لا ينطق عن الهوى لكن قال إني لا أخاف وهذا بناء على وقوع الدعوة في عهده صلى الله عليه وسلم وبيان التوحيد وتمسك الناس به لكن لا يلزم من هذا أن يستمر ذلك إلى يوم القيامة ويدل لهذا أنه صح عن الرسول صلى الله عليه وسلم لا تقوم الساعة حتى تعبد فئام من أمته الأوثان أي جماعات كبيرة ولكن الرسول صلى الله عليه وسلم في تلك الساعة لا يخشى على أمته الشرك (شرح رياض الصالحين 1-2237)

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mengkhabarkan bahwa beliau tidaklah mengkhawatirkan atas umatnya kesyirikan. Karena negara-negara – Alhamdulillah- telah dibuka dan penduduknya berada di atas tauhid, dan tidak terbetik dalam hati Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa akan terjadi kesyirikan setelah itu. Namun, tidaklah bisa dipahami dari hadits ini – tentang Nabi tidak mengkhawatirkan kesyirikan atas umat ini- bahwa kesyirikan tidak akan terjadi. Kesyirikan terjadi saat ini, ada pada saat ini. Di antara kaum muslimin ada yang menyatakan bahwa ia muslim namun ia berthawaf di kuburan, meminta kepada penghuni kubur, menyembelih (kurban) untuk mereka, bernadzar untuk mereka, hal itu benar terjadi. Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah menyatakan: ‘kalian tidak akan berbuat kesyirikan’, sehingga kemudian kita katakan: “apa yang terjadi bukanlah kesyirikan, karena Nabi menafikan kesyirikan dan beliau tidaklah berbicara berdasarkan hawa nafsu”. Akan tetapi Nabi menyatakan: Sesungguhnya aku tidak khawatir terhadap kalian. Ini adalah berdasarkan hasil dakwah di masa hidup Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan penjelasan tauhid dan manusia (pada saat itu) kokoh berpegang teguh dengannya (tauhid). Akan tetapi, tidaklah hal itu berarti bahwa keadaan ini akan terjadi sampai hari kiamat. Hal yang menunjukkan itu adalah bahwa telah shahih dari Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam : Tidak akan terjadi hari kiamat sampai sekelompok besar dari umatku menyembah al-Autsaan (berhala). Akan tetapi Nabi pada waktu itu tidaklah mengkhawatirkan kesyirikan terhadap umatnya (Syarh Riyaadus Sholihin 1/2237).

Hadits pertama tentang Nabi tidak mengkhawatirkan kesyirikan tersebut adalah diriwayatkan dari Sahabat Uqbah bin Amir dan hal itu terjadi pada tahun meninggalnya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam setelah peristiwa haji Wada’. Dalam hadits tersebut Uqbah bin Amir menyatakan: ‘itu adalah terakhir kali aku melihat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam di atas mimbar’. Hal itu menunjukkan bahwa Nabi melihat kondisi kaum muslimin sudah sangat kuat di atas tauhid kepada Allah. Sehingga pada waktu itu bukanlah kesyirikan yang beliau takutkan menimpa para Sahabat tersebut, karena kebanyakan orang-orang pada waktu itu menyaksikan langsung demikian mulya dan kuatnya Islam, dan demikian hinanya kesyirikan, setelah Fathu Makkah dan Haji Wada’. Banyak orang-orang yang berbondong-bondong masuk Islam.



Sedangkan hadits ke-2, atau yang semakna dengannya, telah ada penjelasan dari Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad –hafidhahullah- :

السؤال: كيف يجمع بين حديث: (إن الشيطان قد أيس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب)، و بين هذا الحديث: (لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي بالمشركين)؟ الجواب: لا تنافي بين الحديثين؛ لأن حديث: (أيس أن يعبده) معناه: أن جزيرة العرب كلها تصير على عبادته، وأنه يحصل فيها الارتداد، وهذا لا يكون، وأما كونه يوجد قبائل أو جماعات تخرج وترتد، والإسلام باق، والمسلمون باقون، فإن هذا حاصل وواقع. أما كون الجزيرة كلها تحصل فيها الردة وتبقى خالية من الإسلام وأهل الإسلام فهذا لا يكون؛ ولهذا يئس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب، واليأس يحمل على العموم، وليس على منع ذلك مطلقاً؛ وكما هو معلوم في زمن أبي بكر حصلت الردة، ووجد في جزيرة العرب مرتدون، فإذاً يوفق بينها بأن حديث: (أيس الشيطان) معناه: أنه لا تحصل العبادة له مطلقاً؛ ولا تحصل الردة الكلية التي لا يبقى أحد دون أن يرتد، فإن الجزيرة يبقى فيها الإسلام، ولا ينقطع منها حتى إن وجد فيها من خرج وارتد عن الإسلام. ) شرح سنن أبي داود لعبد المحسن العباد(



Pertanyaan: Bagaimana menggabungkan antara hadits : ‘Sesungguhnya Syaitan telah putus asa untuk disembah orang-orang yang sholat di Jazirah Arab’ dengan hadits: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat sampai sebagian kabilah dari umatku bergabung dengan musyrikin’. Jawabannya adalah: Tidaklah dua hadits itu bertentangan. Hadits : (Syaitan) putus asa untuk disembah, maksudnya bahwa seluruh jaziratul Arab menyembah syaitan, dan terjadi kemurtadan seluruhnya. Hal ini tidak akan terjadi. Sedangkan kalau didapati sebagian kabilah atau sekelompok orang keluar/ murtad dari Islam, sedangkan Islam tetap ada, dan kaum muslimin tetap ada, maka ini terjadi. Kalau jazirah seluruhnya murtad sehingga kosong dari Islam dan Ahlul Islam, maka ini tidak akan terjadi. Karena itu, (syaitan) putus asa dari disembah oleh orang yang sholat. Keputusasaan ini dibawa pada makna secara umum, bukanlah berarti tidak akan terjadi secara mutlak. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa di jaman (pemerintahan) Abu Bakr terjadi riddah (kemurtadan), dan didapati orang-orang murtad di jazirah Arab. Karena itu bisa digabungkan makna kedua hadits tersebut bahwa hadits ‘syaitan putus asa’ maknanya adalah tidak akan terjadi peribadatan kepada syaitan secara menyeluruh, tidak akan terjadi kemurtadan secara menyeluruh yang berarti tidak ada yang tertinggal kecuali orang yang murtad. Karena sesungguhnya Jazirah (Arab) akan tetap ada Islam di dalamnya. Tidaklah terputus darinya meski ada yang keluar/ riddah dari Islam (Syarh Sunan Abi Dawud lisySyaikh Abdil Muhsin al-Abbad).

Hadits-hadits tersebut semakna dengan firman Allah:
…الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا…

…pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa dari agama kalian maka janganlah takut kepada mereka, takutlah kepadaKu. Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku sempurnakan untuk kalian nikmatKu dan Aku ridla Islam bagi kalian sebagai agama… (Q.S al Maaidah:3)

Dalam ayat tersebut Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir telah putus asa dari agama kaum muslimin. Artinya, mereka putus asa dari keinginan agar seluruh kaum muslimin murtad. Mereka putus asa karena setelah Fathu Makkah tersebut (terutama semakin nampak saat Haji Wada’ bersama Rasulullah), jumlah kaum muslimin semakin banyak dan banyak yang masuk Islam secara berbondong-bondong. Islam menjadi jaya dan sangat mulya. Syiar-syiar kesyirikan musnah. Keterkaitan ayat ini dengan hadits ke-2 di atas dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Sedangkan al-Imam atThobary menyatakan:
قال ابن جريج: وقال آخرون ذلك يوم عرفة، في يوم جمعة، لما نظر النبي صلى الله عليه وسلم فلم ير إلا موحِّدًا، ولم ير مشركًا، حمد الله، فنزل عليه جبريل عليه السلام:”اليوم يئس الذين كفروا من دينكم”، أن يعودوا كما كانوا

Ibnu Juraij berkata: sebagian Ulama yang lain berkata bahwa hal itu terjadi pada hari Arafah pada hari Jumat, ketika Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat kecuali orang yang mentauhidkan Allah, beliau tidak melihat adanya orang musyrik. Rasul memuji Allah, kemudian Malaikat Jibril turun (dan menyampaikan wahyu) : “pada hari ini orang-orang kafir putus asa dari agama kalian”. (mereka putus asa) untuk mengembalikan kalian (kepada agama) sebelumnya (Tafsir atThobary

Al-Izz Ibnu Abdissalam (salah seorang ulama’ asy-Syafi’i) menyatakan dalam tafsirnya:
{ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ } من دينكم أن ترتدوا عنه ، أو أن يبطلوه أو يقدحوا في صحته ، وكان ذلك يوم عرفة في حجة الوداع بعد دخول العرب في الإسلام حين لم يرَ الرسول صلى الله عليه وسلم مشركاً

Orang-orang kafir putus asa dari agama kalian supaya kalian keluar dari agama (Islam), atau supaya mereka membatalkan, atau mengurangi sahnya. Hal itu terjadi pada hari Arafah pada haji Wada’ setelah masuknya orang Arab di dalam Islam ketika Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat orang musyrik (Tafsir Ibn AbdisSalaam (1/452)).

Apakah keputusasaan orang kafir tersebut berlaku secara mutlak hingga hari kiamat? Tentu saja tidak. Keputusasaan tersebut terjadi hanya pada masa-masa itu saja.

DALIL – DALIL YANG MENUNJUKKAN BAHWA KESYIRIKAN TETAP DIKHAWATIRKAN TERJADI PADA KAUM MUSLIMIN

1. Bahaya-bahaya kesyirikan banyak termaktub dalam AlQur’an untuk selalu dibaca kaum muslimin: – berbuat syrik kekal di anNaar, perbuatan syirik tidak diampuni, perbuatan syirik menyebabkan terhapusnya amalan, dan semisalnya. Apakah kita mengira bahwa ayat-ayat tersebut hanya untuk sekedar dibaca tanpa makna dan peringatan bahwa kesyirikan itu sangat berbahaya?
2. Nabi Ibrahim berdoa agar dirinya dan anak-anak keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala, dan doa itu diabadikan dalam al-Qur’an

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35)

“Dan ketika Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku jadikanlah negeri ini aman. Jauhkan aku dan anakku dari menyembah berhala” (Q.S Ibrohim:35)

Seorang Ulama’ dari kalangan Tabi’in, Ibrohim at-Taimy berkata: Siapakah yang merasa aman dari musibah (kesyirikan) setelah Nabi Ibrohim? (Tafsir atThobary). Artinya, kalau Nabi Ibrohim saja yang demikian kuat ketauhidannya merasa takut dirinya dan keturunannya ditimpa syirik, maka lebih-lebih kita.

1. Tidak akan datang hari kiamat sampai sebagian kabilah umat Nabi Muhammad bergabung dengan musyrikin menyembah berhala

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ

Tidaklah ditegakkan hari kiamat sampai kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan musyrikan dan sampai mereka menyembah berhala (H.R atTirmidzi)

1. Pesan Nabi menjelang meninggal agar tidak menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid dan beliau berdoa agar kuburan beliau tidak dijadikan sebagai sesembahan.

لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi sakaratul maut, maka beliau menempelkan ujung baju beliau ke wajah beliau sendiri. Dan ketika ujung baju itu telah menutupi wajahnya, maka beliau membukanya kembali seraya bersabda, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan makam Nabi-nabi mereka sebagai masjid.” Aisyah Radhiallahu Anha berkata, “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.” (H.R alBukhari dan Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas)
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

‘Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai watsan yang diibadahi ‘. Sangat besar kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan para Nabinya sebagai masjid (H.R Malik)
Al-Imam Ibnu Abdil Bar berkata:
فقال صلى الله عليه وسلم: “اللهم لا تجعل قبري وثنا يصلى إليه ويسجد نحوه ويعبد فقد اشتد غضب الله على من فعل ذلك” ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحذر أصحابه وسائر أمته من سوء صنيع الأمم قبله الذين صلوا إلى قبور أنبيائهم واتخذوها قبلة ومسجدا كما صنعت الوثنية بالأوثان التي كانوا يسجدون إليها ويعظمونها وذلك الشرك الأكبر فكان النبي صلى الله عليه وسلم يخبرهم بما في ذلك من سخط الله وغضبه وأنه مما لا يرضاه خشية عليهم امتثال طرقهم
Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Allah jangan jadikan kuburanku sebagai watsan yang orang –orang sholat menghadap ke arahnya, sujud ke arahnya, dan disembah. Sungguh telah keras kemurkaan Allah atas orang yang melakukan hal tersebut. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memperingatkan para Sahabat dan seluruh umatnya dari keburukan perbuatan umat sebelumnya yang sholat menghadap ke arah kuburan para Nabi mereka dan menjadikannya sebagai kiblat dan masjid sebagaimana yang dilakukan para watsaniyyah terhadap autsaan (berhala)nya. Mereka sujud ke arahnya dan mengagungkannya. Itu adalah syirik akbar. Maka Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mengkhabarkan pada mereka bahwa hal itu mendatangkan kemarahan dan kemurkaan Allah dan bahwa hal itu tidak diridlainya, beliau khawatir mereka (umatnya) mengikuti jalan mereka (orang-orang musyrik tersebut) (atTamhiid juz 5 halaman 45).
Kami cukupkan sebagian dari sekian banyak penyebutan dalil yang menunjukkan hal tersebut. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiqNya kepada segenap kaum muslimin.
(Abu Utsman Kharisman)

Sumber :
http://kajiansurabaya.wordpress.com/2011/01/24/bantahan-terhadap-buku-%E2%80%98meniti-kesempurnaan-iman%E2%80%99-bagian-ii/
http://itishom.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=64:bantahan-meniti-kesempurnaan-iman-bag-ii&catid=1:aqidah&Itemid=2
Share:

Larangan untuk meminta-minta "Wajah-wajah Tak Berdaging"

Jika kita melihat dan memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini, maka kita akan mendapati sebagian dari kaum muslimin berada dipinggir jalan mencoba mengais rezeki dengan menengadahkan tanganya kepada setiap orang yang melintas. Ini adalah suatu pemandangan yang sangat memilukan hati. Padahal meminta-minta adalah perbuatan yang tercela didalam islam. Mereka tinggalkan usaha atau berkarya dengan tangan mereka sendiri. Padahal Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah menjamin rezeki bagi mereka. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini melainkan Allahlah yang mengatur rezekinya."(Hud: 6)

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, :

"Seandainya kamu sekalian benar-benar tawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung. Dimana burung itu keluar pada waktu pagi dengan perut kosong(lapar), dan pada waktu sore ia kembali dengan perut kenyang." [HR.At-Tirmidzy(4/2344),Ibnu Majah(2/4164),dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak(4/318),dan dia berkata::”hadits ini hasan shahih.”dan disepakati oleh Adz-Dzahaby)]

Dari keterangan ini, maka jelaslah! bahwasanya setiap dari kita telah dijamin rezekinya oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tinggal usaha dari kita untuk mendapatkannya­. Karena rezeki tidak turun begitu saja dari langit, akan tetapi dibutuhkan usaha, kesungguhan serta tawakkal yang sempurna. Oleh karena itu, Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- memberikan perumpamaan dengan seekor burung yang keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki. Burung itu tidak tinggal di dalam sarangnya menunggu rezeki yang datang kepadanya.Akan tetapi,dia berusaha dengan terbang kesana kemari untuk mendapatkan makanannya. Dan manusia yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memberikan banyak fasilitas kepadanya dibandingkan burung ( berupa kaki, tangan, hati, dll )maka itu lebih layak baginya untuk berusaha dalam mencari rezekinya. Sebagaiman firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala- :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila sholat telah selesai ditunaikan maka bertebaranlah kamu sekalian dimuka bumi ini dan carilah karunia Allah."(Al-Jum’ah:10).

Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- sangat menganjurkan agar seorang muslim untuk makan dari hasil usaha sendiri dan menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta dan mengharapkan pemberian dari orang lain.Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

"Sungguh salah seorang diantara kalian pergi mencari kayu bakar dan dipikulkan ikatan kayu itu di punggungnya,maka itu lebih baik baginya dari pada ia meminta-minta kepada seseorang baik orang itu memberi ataupun tidak memberinya."[HR.Al-Bukhary(4/2073/Alfath.), Muslim(2/zakat/721),dan An-Nasa’y(5/2573),dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ].

Dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, :

"Tidak ada seseorang,makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya nabi Allah Daud-’alaihi salaam-makan dari hasil usahanya sendiri." [HR.Al-Bukhary(4/2072/Al-Fath.), Ahmad didalam Musnadnya(4/131,`132), dari sahabat Al-Miqdam bin Ma'dikarib -radhiyallahu anhu- )

Oleh karena itu, hendaknya setiap dari kita untuk menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain.Karena sesungguhnya, tidaklah seseorang meminta dari orang lain, kecuali ia menjadi hina dan rendah dalam pandangan orang lain itu.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, :

"Tangan yang diatas,itu lebih baik dari pada tangan yang dibawah.Tangan yang di atas adalah tangan yang memberi dan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta."[HR.Al-Bukhary(3/1429/Al-Fath.),dan Muslim (2/zakat/717), dari sahabat Ibnu 'Umar -radhiyallahu anhu-)

Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya atau balasan terhadap orang yang meminta-minta. Bahwasanya Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

"Seseorang diantara kalian akan selalu meminta-minta sehingga ia nanti bertemu dengan Allah sedangkan mukanya tidak ada daging sama sekali," [HR.Al-Bukhary (3/1474/Al-Fath.) dan Muslim(2/zakat/720),dan Ahmad(2/15) dari sahabat Ibnu 'Umar -radhiyallahu anhu- ).

Dan Rasulullah juga bersabda:

"Barang siapa yang meminta-minta kepada sesama manusia dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya,maka sesungguhnya ia meminta bara api.Terserah padanya apakah ia mengumpulkan sedikit saja atau akan memperbanyaknya." [HR.Muslim(2/zakat/760), Ibnu Majah(2/1737), Ahmad didalam Musnadnya(2/231), dan Al-Baihaqy dalam Sunannya(4/196), dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- )

Dengan melihat ancaman seperti ini,maka seorang muslim hendaknya takut dan menahan dirinya serta menjaga kehormatannya dari meminta-minta kepada orang lain kecuali dalam keadaan darurat.Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam-didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Qabishah Bin Mukhariq Al-Hilali -radhiyallahu anhu- bahwasanya dia berkata:

"Saya memiliki tanggungan (hutang, diat dan sebagainya) lalu saya mendatangi Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- untuk meminta sesuatu kepada Beliau -Shollallahu alaihi wa sallam- .Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:"tinggallah!sampai datang kepada kami sedekah, nanti akan kami perintahkan agar dibagikan kepadamu". Kemudian Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda: "Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang, Pertama, orang yang sedang menanggung beban (denda, hutang dansebagainya) maka ia boleh meminta sampai ia melepaskan tanggungan(beban)itu. Kedua, seseorang yang tertimpa kecelekaan/musibah yang menghabiskan hartanya, maka ia boleh meminta-minta sehingga ia bisa memperoleh kehidupan yang layak. Ketiga, seseorang yang sangat miskin,sehingga disaksikan oleh tiga orang cerdik pandai dari kaumnya bahwa"si fulan benar-benar miskin"maka ia boleh meminta-minta sehingga ia bisa memperoleh kehidupan yang layak. Hai Qabishah, meminta-minta yang selain karena tiga sebab ini maka itu adalah usaha yang haram, dan orang yang memakannya berarti makan barang yang haram."[HR.Al-Bukhary(3/1479/Al-Fath.), dan Muslim (2/zakat/719).

Saudaraku…kelaparan dan sedikit ibadah lebih baik daripada kamu memakan dari hasil meminta-minta dari orang lain seraya melakukan banyak ibadah.

Asy-Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i –rahimahullah-berkata:"Saya nasehatkan kepada Ahlus Sunnah agar bersabar menghadapi kemiskinan.Karena kemiskinan ini adalah keadaan yang telah dipiihkan oleh Allah untuk Nabinya Muhammad-Shollallahu alaihi wa sallam-. Dan Rabb Yang Maha Perkasa berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :

"dan sungguh akan kami beikan cobaan kepedamu dengan sedikilt ketakutan kelaparan jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna lillahi rajiun mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunju";( Al-baqarah 155-157)

Perhatikanlah beberapa petikan tentang kesabaran Nabi dan para sahabatnya -radhiyallahu -Ta'ala-'anhum- di dalam menghadapi kemiskinan, kelaparan dan kekurang di dalam pangan (tidak memiliki pakaian). Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- dia berkata :

pada suatu hari atau malam Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- keluar rumah, tiba-tiba bertemu dengan Abu baker dan Umar ,lalu beliu berkata :"apa yang mengeluarkan kalian dari rumah kalian, pada saat seperti ini?"

Keduanya menjawab ";lapar ya Rasulullah"

Beliau bersabda: " demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, saya juga dikeluarkan oleh yang menyebabkan kalian keluar, bangkitlah!"

Lalu keduanya bangkit bersam Beliau lalu memdatangi seorang sahabat Ansar ternyata dia tidak ada di rumah namun. Ketika istri sahabat tersebut melihat dia berkata " selamat datang". Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- nbertanya kepadanya kemana Si fulan ? wanita itu berkata :"keluar mencari air minum untuk kami". Kemudian datanglah sahabat Ansar tersebut dan melihat Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- beserta kedua sahabatnya kemudian dia berkata "segala puji bagi Allah tidak seorangpun pada hari ini yang tamunya lebih mulia daripada aku".

Kemudian dia pergi dan membawa setandan kurma lengkap, ada busr (kurma muda), tamr (kurma matang) dan ruthab (kurma yang masih basah diaberkata:"silahkan makan". 'setelah itu dia mengambil pisau. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- menegurnya :" hati-hati jangan ambil yang sedang menyusui". Diapun menyembelih seekor kambing. Merekapun makan dari kambing dan setandan kurma dan minum. Setelah kenyang dan hilang dahaga, Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- berkata kepada abu bakr dan umar :" demi zat yng jiwaku ada di tangan-Nya kalian pasti akan ditanyai tentang kenkmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah kalian, kemudiann kalian tidak pulang kecuali telah menyantap kenikmatan ini" .[HR. Muslim (3/1609)]

Oleh karena itu janganlah engkau berkecil hati dengan kemiskinan yang menimpa dirimu dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah karena sesungguhnya rahmat Allah itu luas maka berusahalah dengan kemampuan yang ada pada dirimu tentunya dengan cara yang halal dan bersifatlan dengan sifat qona’ah yaitu merasa cukup dengan apa yang ada pada dirimu. Karena sesungguhyan kekayaan itu bukanlah dilihat dari banyaknya harta benda akan tetapi dilihat dari lapangnya dada dalam menerima kondisi kita yang telah diberikan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- .

Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- ‘

‘Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak hartanya, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kekayaan jiwa.[HR Al-Bukhari (11/6446/Al-Fath.)dan Muslim(2/zakat/726) dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- )

Seorang penyair pernah berkata:

sungguh kekeyaan itu adalah kaya akan jiwa

meski tanpa berbalut baju tanpa beralas kaki

orang tiada puas meski lebih dari sederhana

namu bila hati menerima, sebagian sajapun mencukupi.

Inilah yang dapat kami uraikan dalam masalah tercelanya meminta-minta dari sejumlah ayat Al Qur’an dan Hadits yang sahih agar binasa orang yang memang pantas binasa dengan keterangan yang jelas dan hidup orang yang memang pantas hidup dengan keterangan yang nyata. Wassalam

Sumber : http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/wajah-wajah-tak-berdaging.html
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Kategori

About this blog

Theme Support