"Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya"



 photo islamic_wallpaper_hd_4.jpg

-Abu Dzaar-

"Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk mengatakan yang benar walau itu pahit,dan memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah" (HR. Ahmad 5: 159)

 photo 10414_1280x800.jpg

--Imam Malik-Rahimahullah--

"Seseorang hanya bisa menjadi baik setelah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya, dan sibuk dengan apa yang berguna baginya. jika dia telah melakukannya, pasti Allah akan membuka hatinya"(Asy-Syarbashi, Al-Aimmah Al-Arba'ah, 98)

 photo blue_landscape-wallpaper-1366x768.jpg

--Imam Ahmad bin Hanbal-Rahimahullah--

"Dasar-Dasar sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan ajaran Sahabat Rasulullah SAW berusaha meneladani dan meninggalkan segala bid'ah" (Da'a'im Minhaj Nubuwwah, Hal 57-48)

 photo Free-Download-Nature-HD-Wallpapers.jpg

--Imam Syafi’i-rahimahullah--

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190)

 photo landscape-photography-wallpaper-3.jpg

--Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam--

"Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar" (HR. Abu Dawud, no. 4800)

Rabu, 22 Juni 2016

JANGAN TAKUT MENYUARAKAN KEBENARAN

Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda:

*لا يَمنَعَنَّ رَجُلاً هَيبَةُ النَّاسِ أن يقول بحقٍّ إذا عَلِمَهُ [أو شَهِدَهُ أو سمِعَهُ].*

“Janganlah sekali-kali ketakutan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengatakan kebenaran jika dia mengetahuinya atau menyaksikannya atau mendengarnya.”

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah berkata:

وفي الحديث: النهي المؤكد عن كتمان الحق خوفاً من الناس، أو طمعاً في المعاش، فكل من كتمه مخافة إيذائهم إياه بنوع من أنواع الإيذاء؛ كالضرب والشتم وقطع الرزق، أو مخافة عدم احترامهم إياه ونحو ذلك؛ فهو داخل في النهي ومخالف للنبي ﷺ، وإذا كان هذا حال من يكتم الحق وهو يعلمه؛ فكيف يكون حال من لا يكتفى بذلك، بل يشهد بالباطل على المسلمين الأبرياء، ويتهمهم في دينهم وعقيدتهم؛ مسايرة منه للرعاع، أو مخافة أن يتهموه هو أيضاً بالباطل إذا لم يسايرهم على ضلالهم واتهامهم؟! فاللهم ثبتنا على الحق، وإذا أردت بعبادك فتنة؛ فاقبضنا إليك غير مفتونين.

“Di dalam hadits ini terdapat larangan yang ditekankan dari perbuatan menyembunyikan kebenaran karena takut kepada manusia atau karena keinginan untuk mendapatkan penghasilan. Jadi siapa saja yang menyembunyikannya karena takut terhadap gangguan mereka terhadapnya dengan sesuatu yang menyakitkan, seperti pukulan, cacian, dan terputusnya rezeki, atau mereka tidak lagi menghormatinya, dan semisalnya, maka itu termasuk dalam larangan dan menyelisihi Nabi shallallahu alaihi was sallam.
Dan jika seperti ini keadaan orang yang menyembunyikan kebenaran dalam keadaan dia mengetahuinya, maka bagaimana dengan keadaan orang yang tidak sebatas melakukan hal itu saja, bahkan dia bersaksi secara bathil untuk menjatuhkan kaum muslimin yang tidak bersalah, menuduh sesat agama dan akidah mereka demi mengikuti kemauan orang-orang awam, atau karena dia juga takut mereka akan menuduhnya dengan kebathilan jika dia tidak sejalan dengan mereka dalam kesesatan dan tuduhan dusta mereka?!
Yaa Allah, kokohkanlah kami di atas kebenaran, dan jika Engkau ingin menimpakan fitnah kepada hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tanpa terfitnah.”

Silsilah ash-Shahihah, no. 168

Majmu’ah Marhaban “Yaa Thalibal ‘Ilmi”
Share:

MENGIMAMI SHOLAT TARAWIH DENGAN MEMEGANG DAN MEMBACA MUSHAF

Ketika mendapati sebagian imam mengimami tarawih dengan memegang mushaf atau menaruh sebuah mushaf jumbo terbuka di depannya,banyak dari kita yang mungkin bertanya- tanya.Itu ada sunnahnya atau tidak?

Ini alfaqir bawakan sebuah riwayat dari Al Bukhari secara muallaq (tidak disebut sanadnya) tentang atsar dari ibunda Aisyah radhiyallahuanha.

Riwayat tersebut adalah:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﻠﻴﻜﺔ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻧﻬﺎ ﺃﻋﺘﻘﺖ ﻏﻼﻣﺎ ﻟﻬﺎ ﻋﻦ ﺩﺑﺮ ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺆﻣﻬﺎ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻓﻲ اﻟﻤﺼﺤﻒ

"Dari Abu Bakar bin Abi Mulaikah dari Aisyah, bahwa beliau memerdekakan budak miliknya secara mudabbar .Budaknya kemudian mengimami Aisyah di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf."

Dari hadits ini,Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menukilkan di Fathul Baari tentang salah satu pendapat para ulama tentang bolehnya mengimami sambil melihat mushaf.

Berikut nukilan dari Fathul Baari:

ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻲ اﻟﻤﺼﺤﻒ اﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻤﺼﻠﻲ ﻣﻦ اﻟﻤﺼﺤﻒ

" (redaksi hadits yang berbunyi) membaca dari mushaf ,dari sini dijadikan dalil kebolehan orang yang shalat sambil membaca dari mushaf."

Wallahul Muwaffiq

#alfaqir
#An Nashoih As Salafiyyah
Share:

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

Janganlah engkau membaca:

صدق الله العظيم

akan tetapi bacalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sunnah yang kebanyakan manusia melalaikannya setelah membaca Al-Qur'an. Disunnahkan setelah selesai membaca Al-Quran untuk membaca :

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

"Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."

Dalil akan hal itu adalah: 

Dari Aisyah radhiallahu'anha berkata:  Tidaklah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam duduk di satu majlispun dan TIDAKLAH MEMBACA QUR'AN dan mengerjakan shalat apapun kecuali beliau menutupnya dengan bacaan itu."

Lalu Aisyah berkata : Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, saya melihat engkau. Tidaklah engkau duduk dalam suatu majlis, tidak pula engkau membaca Qur'an, tidak pula engkau mengerjakan shalat apapun kecuali engkau menutupnya dengan membaca bacaan tadi?"

Jawab beliau: "Ya, barangsiapa yang mengucapkan kebaikan ditutup untuknya penutup di atas kebaikan tadi. Dan barang siapa yang mengucapkan kejelekan (dalam majlisnya), maka bacaan doa tadi sebagai penghapus kejelekan (kaffarah) baginya.

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

"Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."

Imam An-Nasaai membuat Bab atas hadits ini dengan perkataan beliau:  "Bab Apa yang dibaca setelah membaca Al-Quran." Sanadnya shahih:  Dikeluarkan oleh An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubra dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam An-Nukat 2/733. Sanadnya shahih.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata dalam Ash-Shahihah 7/495 :  Ini adalah sanad yang shahih juga diatas syarat Muslim.

Syaikh Muqbil Al-Wadii berkata dalam Al-Jami' As-Shahih mimma Laisa fi Ash-Shahihain 2/128: Ini adalah sanad yg shahih.

Manusia sekarang meninggalkan sunnah yang satu ini, mereka malah membaca doa setelah membaca Al-Quran: "Shadaqallahul Azhiim"

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Tentang Shadaqallahul Azhiim :

Menjadikan kalimat "Shadaqallahul Azhiim" dan yang semisalnya sebagai penutup untuk membaca Al-Quran itu bidah.  Karena tidak pasti dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kalau beliau membacanya setiap selesai membaca Al-Quran. Kalau seandainya hal itu disyariatkan untuk menutup bacaan Al-Qur'an niscaya beliau  membaca setelahnya.

Dan telah pasti dari beliau bahwasanya beliau bersabda:

"Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang bukan darinya maka hal itu tertolak." (HR. Bukhary dan Muslim)..

Hanya Allahlah tempat memohon Taufiq.
Dan shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga beliau dan sahabat beliau.

Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyah Dan Fatwa.

Dipimpin oleh Imam Abdul Aziz Bin Baaz rahimahullah
Anggota : Al-Allamah Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah.
Anggota Al-Allamah AbdurRazzaq Afifi rahimahullah.

Sumber Fatwa no 7306.

Kunjungi || http://forumsalafy.net/diantara-sunnah-yang-telah-ditinggalkan-manusia-setelah-membaca-al-quran/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
Share:

PARA PEKERJA YANG MENGALAMI KELELAHAN KARENA PEKERJAANNYA KETIKA RAMADHAN

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- :

Pertanyaan:
"Apakah boleh bagi seorang pekerja ketika (terasa) berat pekerjaannya untuk berbuka?"

Jawaban:
"Wajib atas mereka untuk tetap berpuasa dan hendaknya mereka meminta pertolongan kepada Allah-'azza wa jalla-. Barang siapa yang meminta pertolongan kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya.

Jika di pertengahan siang mereka memang mengalami rasa haus yang bisa membahayakan, atau menyebabkan kebinasaan mereka, maka tidak mengapa baginya untuk berbuka karena kondisi darurat.

Akan tetapi yang lebih baik dari ini mereka bersepakat dengan perusahaan, atau tuannya, bahwa untuk pekerjaan selama bulan Ramadan dikerjakan pada malam hari, atau sebagiannya di malam hari dan sebagiannya lagi di siang hari, atau meminta agar waktu kerjanya dikurangi.

Sehingga bisa melaksanakan tugas kerja dan tetap berpuasa dengan nyaman."

Sumber: Majmu' Fatawa Ibnu Utsaimin  (19/89)
Share:

CATATAN EKS CAKRABIRAWA TENTANG PKI

Judul Asli WACANA & CATATAN  EKS CAKRABIRAWA JADI SALAFI

Eks Cakrabirawa jadi Salafi

Ditulis Oleh : ing
pada: Rabu, 22 Juni 2016 7:12
pada: Wacana & Catatan

Oleh: Mochamad Rona Anggie*

Angin malam menemani. Semakin larut kilometer bertambah. Kantuk dihadang. Lelah dilawan. Pedal gas ditekan. Kemudi menari-nari. Tak boleh hilang kendali. Awas! Rem senantiasa siaga.

Selama 20 tahun, Baharudin Hasibuan menjalani malam-malam perjuangan. Mengakrabi lampu tembak. Menyalip kendaraan lain penuh waspada dalam remang cahaya bulan. Melalui antar kota dan provinsi. Demi menghidupi anak istri. “Anak banyak, saya harus bekerja,” kata lelaki 75 tahun itu, belum lama ini.

Padahal sebelumnya, dia memang terlatih menembak. Melakoni kehidupan penuh aksi. Melewati batas hidup dan mati membela negeri. Prajurit muda yang terjun dalam operasi pembebasan Irian Barat. Menunaikan seruan Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno.

Sekian personil berjibaku di belantara cendrawasih. Mujur, demikian takdir Baharudin. Dia termasuk yang bisa bertahan. Baik dari ganasnya alam, maupun deras desingan peluru. Lainnya tinggal nama di bumi Jayawijaya. Karena satu peristiwa, kemudian dia terdampar di belakang kemudi bus malam. Menembak tak lagi dengan peluru. Tapi dengan sinar lampu.

*

“Saya masih merasa takut sampai hari ini,” ucap Baharudin di kediaman Desa Ciporang, Kuningan. Ayah sepuluh anak itu menerima kami – sahabat satu pengajiannya – penuh kehangatan. Udara dingin kaki gunung Ciremai melapisi lantai. Kaki para tamu tak kuasa dipijakan. Menggantung di sela-sela kursi. Selain penulis, ada Maman Salim, Abu Irbadh, dan Abu Harits Faishol. Ketiganya veteran Laskar Jihad perang Ambon.

Logat Batak Mandailing Baharudin meninggi, kadang parau agak tertahan. Tampak beban sejarah menghimpitnya. Ingatan masa lampau amat membekas. Ingin tak cerita pada siapapun, tapi situasi negeri membuka kembali memori. Bungkam bukan hal mudah. Terlebih, saat ini lelaki kelahiran Pematang Siantar itu aktif dalam pengajian sunni-salafi,ahlussunnah wal jamaah.

Butuh kejujuran dalam hari-hari sebagai seorang salafi. Tak bisa membohongi diri dengan sesuatu yang melanggar syariat. Nurani akan terketuk. Meminta jawab atas apa yang pernah dilakukan. Masa lalu Baharudin terkuak. Kepada Ustad Abu Ibrohim Hamzah, pengasuh kajian salafi di Kuningan, dia bertanya beberapa hal yang dianggap kekeliruan. Dari perbincangan diketahui, kakek 13 cucu itu ternyata eks pasukan elit pengamanan presiden Soekarno, Cakrabirawa.

“Beliau tanya soal hukum dulu pernah memakai jimat-jimat, dan hal lain. Dari situ obrolan berlanjut, ternyata beliau mantan Cakrabirawa,” kata ustad asal Desa Cineumbeuy, Kuningan.

Pemberitaan media massa belakangan mengemuka. Ada upaya pihak tertentu ingin “menerima” kembali komunisme di tengah kehidupan bangsa Indonesia. Baharudin mengelus dada. Terkenang satu kepingan cerita hidup. Ada amarah terpendam dalam dirinya. Dia sadar ideologi yang tak menuhankan Tuhan itu berlumur darah. Menyulut pemberontakan. Memercikan bara perang saudara. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di rahim ibunya, Soviet dan Tiongkok.

*

Ketegangan menghinggapi dua bintara senior Cakrabirawa. Mereka berhadapan. Sesekali saling pandang. Udara sejuk sekitar Istana Bogor tak mengurangi tensi keduanya. Saling adu strategi. Otak diperas, pengalaman dibuka. Siapa bisa menghentikan langkah raja lawan lebih dulu. Siapa paling ganas melahap pion lawan.

Pertemuan terakhir dengan Zul Arif siang itu, mengubah kompas hidup Baharudin 180 derajat. Padahal dia sedang menikmati masa pendidikan Sekolah Calon Perwira (Scapa). Berpeluang punya pangkat melati dan bintang. Terbayang kehidupan menjadi lebih nyaman. Tak lagi sebagai prajurit tempur, tapi menjadi perwira yang menyuruh gempur. “Pangkat terakhir saya Serka. Ikut Scapa antara 1963-1964,” bebernya.

Malam harinya, Zul Arif bersama personil Cakrabirawa di bawah komando Kolonel Untung, ambil bagian dalam Gerakan 30 September 1965. Baharudin tak tahu pasti. Sohibnya itu mengerti tujuan pemberontakan, atau sekadar taat perintah pada  atasan yang memang pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI).

Aksi Cakrabirawa tak berjalan mulus. Kolonel Untung dan pasukannya berhasil menguasai RRI. Dewan Revolusi diumumkan sebagai tandingan Dewan Jenderal. Namun petinggi Angkatan Darat (AD) di Jakarta tak hilang taji. Mereka masih punya nyali. Terlebih jenderal besar AD, Abdul Haris Nasution, lolos dari pembunuhan.

Pangkostrad, Mayjen Soeharto, ditugaskan membenahi keadaan. Esok hari, 1 Oktober, RRI berhasil direbut kembali. Keadaan berbalik. Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) turun tangan. Situasi dikendalikan TNI. Cakrabirawa kemudian dibidik.

“Saya masih berjaga di Istana Bogor saat kejadian,” terang Baharudin. Seluruh pasukan Cakrabirawa terkontaminasi selepas itu. Persepsi pimpinan TNI AD semua sama: personil Cakrabirawa terlibat G-30-S/PKI. Moncong senapan prajurit TNI semua terarah pada Cakrabirawa. Padahal tidak demikian. Baharudin dan beberapa rekan tak tahu-menahu soal aksi berdarah itu. “Saya dan ratusan orang lain sempat ditahan dalam satu sel. Pengap sekali, bernapas pun sulit,” paparnya.

Dia ingat saat di sel, setiap malam dua orang temannya dibawa keluar dan tidak kembali lagi. Insting prajurit Baharudin membaca mereka yang tak kembali pasti sudah dibunuh.

Bulan penuh bencana pasca kejadian. Pembunuhan terhadap mereka yang terkait PKI menjadi “legal”. Terlebih setelah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966 terbit. Soekarno memberi kewenangan tak terbatas pada Soeharto. PKI resmi dilarang. Pembersihan terhadap orang-orang PKI dan simpatisannya meluas.

Di titik ini, naluri alamiah Baharudin untuk mencari selamat menguat. Walau merasa tidak terlibat pembunuhan para jenderal, secara sadar ia tahu nyawanya terancam. Cepat atau lambat ia bisa dieksekusi. Berat hati, ia pun memilih meneruskan hidup dalam pelarian. Ia lepas baret kebanggaan Cakrabirawa. Menjalani hari-hari sebagai rakyat biasa. “Dari Jakarta saya langsung ke Kuningan. Tak ada saudara, tak ada kawan. Sampai kemudian bisa menikah di sini,” kenangnya.

Ditanya apakah sekarang PKI bisa muncul kembali? Lelaki yang pernah bertugas di kesatuan Banteng Raiders itu menyatakan sulit. “Angkatan Darat sudah kuat sekali. Tidak bakal membiarkan PKI hidup kembali,” tegasnya.

Menjelang Isya, kami pamit. Azan berkumandang. Baharudin bersiap ke masjid. “Belum lama saya sempat pulang ke Medan. Ada anak baru selesai wisuda kemudian menikah,” katanya dengan senyum mengembang.

Para tamu pulang. Selepas salat, Baharudin bisa menikmati segelas teh manis hangat. Bersenda gurau dengan anak-cucu. Tak perlu lagi datang ke pangkalan bus.


*) Mantan wartawan. Pemerhati sosial dan keagamaan.

Tags:cakrabirawasalafi
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Kategori

About this blog

Theme Support