"Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya"



 photo islamic_wallpaper_hd_4.jpg

-Abu Dzaar-

"Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk mengatakan yang benar walau itu pahit,dan memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah" (HR. Ahmad 5: 159)

 photo 10414_1280x800.jpg

--Imam Malik-Rahimahullah--

"Seseorang hanya bisa menjadi baik setelah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya, dan sibuk dengan apa yang berguna baginya. jika dia telah melakukannya, pasti Allah akan membuka hatinya"(Asy-Syarbashi, Al-Aimmah Al-Arba'ah, 98)

 photo blue_landscape-wallpaper-1366x768.jpg

--Imam Ahmad bin Hanbal-Rahimahullah--

"Dasar-Dasar sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan ajaran Sahabat Rasulullah SAW berusaha meneladani dan meninggalkan segala bid'ah" (Da'a'im Minhaj Nubuwwah, Hal 57-48)

 photo Free-Download-Nature-HD-Wallpapers.jpg

--Imam Syafi’i-rahimahullah--

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190)

 photo landscape-photography-wallpaper-3.jpg

--Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam--

"Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar" (HR. Abu Dawud, no. 4800)

Rabu, 02 Juli 2014

KISAH PENGALAMAN SEORANG PETERNAK SAPI

Apr 22, '08 7:49 PM
for everyone

Salam Sapi Boss,
Beberapa tahun silam, saya jalan-jalan melihat kebunku yang penuh dengan bunga di suatu desa. Saat kepanasan dan kecapean, si pengurus kebun menemani berteduh di gubuk sambil berbincang-bincang. Dia mengajukan usul "Boss kita pelihara sapi Boss, beli DUA di gemukin hasilnya bisa beli TIGA" . Dalam pikiran saya "Buset dah, bisnis yang sangat cerah prospeknya, nggak ada salahnya di coba". Walaupun penuh rasa keraguan, apa iya sih, kalau iya kenapa nggak ada yang melakukannya di desa itu. Tapi nothing to loose, worthed to try. Si penjaga kebun sebut saja si RW, sudah punya satu, saya beli satu lagi, nyicil sih belinya. Ternyata bener juga dia bilang , saat di jual kita bisa beli tiga, namun yang satu kecilan. Nggak salah ternyata si RW. Lalu kita bersama membeli tiga sapi, dua betina satu betina anakan. Setelah beberapa saat jumlah sapi jadi LIMA. Wah bener-bener cerah nih usaha.

Mulai dah nekat dikit dengan membeli lebih banyak sapi lokalan artinya beli di pasar lokal deket desa tersebut. Kemudian di besarkan dengan pola mereka alias dengan di kasih makan rumput belaka. Hasil jual untungnya di bagi dua (namanya MARO)
Dalam jumlah yang agak banyak dan di tangani oleh banyak orang inilah MASALAH MULAI TIMBUL.
Pokok masalah yang utama adalah MENTALITAS masyarakat pedesaan yang berpola pikir " KERJA SEKARANG YA HASILNYA JUGA SEKARANG", sedangkan akar masalah untuk ini adalah "beberapa saat" nya itu, ternyata luama buanget. Sedangkan untuk penggemukan dengan pola intensip, mereka nggak ngarti, dianggapnya pemborosan belaka. Ahirnya satu persatu para PENGURUS SAPI tsb berguguran. Mereka minta hasil kerjanya segera di berikan dengan perhitungan setengah dari kenaikan bobot menjadi hak mereka. Permasalahan pertama dapat di selesaikan dengan baik. Which is good, karena dengan demikian akhirnya tersaring juga SDM mana yang mentalitasnya dapat di ajak maju ke arah bisnis.

Penggemukan di teruskan oleh hanya satu SDM yang tersaring , dengan menggunakan pola intensip, makanan utama konsentrat sedangkan rumput hanya sebagai persyaratan guna memperlancar pencernaan sapi.
TERNYATA PENAMBAHAN BOBOTNYA SANGAT MINIM. Saat di jual untung sih untung tapi MINIM, tidak sesuai dengan rencana semula.
Hasil evaluasi, di gemukin berapa tahun pun bobot sapi nggak akan nambah banyak, karena sapinya sapi KAMPUNG. Ibarat orang desa di kasih Hamburger yg pake keju, yang ada mencret-mencret, bukannya gemuk. KESALAHAN ADANYA DI SI SAPI, BUKAN YANG NGURUS.

Setelah mengirim si pengurus untuk magang di beberapa peternakan pola intensip. Dimulailah gelombang berikutnya.

Sapi di pilih jenis yang cepat besar dan bisa besar, pilihan jatuh pada sapi jenis LIMOUSIN dan SIMMENTAL, yang di datangkan dari Jawa Tengah. Menu makanan utamanya konsentrat di campur Ampas Tahu dan lain2nya. Ampas tahu di dapat dari pabrik tahu yang sengaja di dirikan untuk memenuhi kebutuhan sapi dan cari untung tambahan dari jualan tahu sumedang. Nahhhh disini mulai kelihatan peningkatan bobotnya sangat pesat, keuntungan besar mulai terbayang.
Eeeeeehhhhhh tiba2 harga kacang kedelai melonjak nggak terkontrol, pabrik tahu tutup semua, ampas tahu nggak punya. Untung masih banyak singkong, ampas tahu di ganti singkong mentah. Penambahan bobot masih ok. Berarti keuntungan masih Ok lahhhhhh, yang penting ada lebih-lebihnya dikit lahhhh.

Kesimpulan :
1. Untuk beternak dengan sekala agak besar dengan sistim maro dengan masyarakat desa sulit dilakukan, kecuali COST OF MONEY MUST BE NEGLECTED, arti prakteknya -- jangan di targetkan waktunya.

2. Dengan pola intensip dan jenis sapi yang sesuai, biayanya sangat tinggi, namun keuntungannya juga lebih tinggi.

Permasalahan:
1. MENTALITAS SDM. Seperti yang saya uraikan di atas. Ahirnya sulit untuk mengangkat pendapatan masyarakat desa secara makro ( banyak orang). Karena untuk pola intensip ini, SATU orang mampu mengurus DUAPULUH EMPAT SAPI. Yang awalnya 8 orang untuk 24 sapi, kini hanya 1 orang untuk 24 sapi. Makanan full konsentrat, rumput beli atau bayar orang untuk ngarit. Selama ini sih rumput nanem sendiri jadi ngaritnya mudah dan cepat tapi tetap bayar pengaritnya , agar si pengurus bisa konsentrasi di kandang sapi.
Yang bisa menikmati proyek sapi ini ahirnya hanya satu orang yaitu si pengurus, dia mendapat gaji bulanan UMR plus bonus jika keuntungannya melebihi target yang di tentukan, yang lainnya MANYUUUUN dan mohon2 kerjaan, yang tidak akan mungkin saya tampung karena nggak ada kerjaan yang membutuhkan tenaga mereka kecuali ngarit dan kerjaan insidentil.

2. Untuk memperluas sekala peternakan, masalahnya juga MENTALITAS SDM, yang tidak mau kerja jika kandang sapinya agak jauh dari rumahnya yang hanya sekitar satu setengah kilometer. Karena sudah tidak adalagi lahan disekitar rumah mereka untuk kandang yg agak besar (minimum 24 sapi). Alasnnya masuk akal, yaitu takut sapinya di curi orang, karena nggak bisa ngawasin 24 jam.

Jalan keluar untuk perluasan:
Memilih SAPI LIAR (yg tidak di cucuk idungnya dan tidak perlu di ikat meliharanya), sehingga hanya pencuri sapi yang luar biasa mahir dan berani yang akan bisa mencuri. Masalah utamanya untuk ini adalah INVESTASI PEMBUATAN KANDANGNYA SANGAT TINGGI, memerlukan bahan pipa besi yang buanyak sekali, padahal harga besi kan lagi gila2an mahalnya.
Proyek perluasan ini masih saya hitung-hitung dan survey kesana kemari, kalau mulai berjalan kita akan cerita lagi Boss.
Terimakasih dan salam hormat

http://www.sapiology.com
Sekedar berbagi ilmu dari web www.tony_sapi.multiply.com yang sudah tidak ada lagi
Share:

Selasa, 01 Juli 2014

TERNAK SAPI - DOMBA / KAMBING - POTONG

Jan 6, '08 1:14 AM
for everyone

Dari namanya sudah tercermin ke sengsaraan sang hewan, karena dilahirkan dan dibesarkan kemudian di POTONG, untuk kemudian di konsumsi. Siklus ini berjalan sejak jaman dahulu kala, mungkin juga semenjak manusia ada di bumi. Semakin lama manusia menjadi semakin pandai. Tidak lagi harus berburu hewan, untuk mendapatkan dagingnya. Dengan Akal dan Budi nya, manusia berhasil melakukan kerjasama yang sangat baik dengan hewan-hewan yang akan di makan nya. Manusia menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga hewan-hewan tersebut untuk dapat bertahan hidup menjadi sangat tergantung pada manusia. Bahkan sang manusia lah yang menentukan kapan hewan tersebut boleh hidup dan kapan harus mati, demikian juga dengan seluruh aspek kehidupan hewan tersebut. Betapa besar kekuasaan sang manusia dan betapa kecilnya, bahkan tiada sama sekali  kebebasan yang dimiliki sang hewan.

Pola kerjasama manusia dengan hewan ini tidak pernah diketahui kapan mulainya, yang jelas pola ini telah menjadi tradisi yang masih berlaku sampai dengan saa ini, dan akan berlaku  terus sampai entah kapan juga tidak ada yang tahu. Karena awal pola kerjasama ini sudah sangat lama, maka jika ada manusia yang sampai saat ini masih menjalankan pola kerjasama ini, mereka akan disebut sebagai manusia yang berusaha dengan pola TRADISIONAL dan terus berkembang menjadi USAHA TRADISIONAL. Se canggih dan semahal apapun sarana yang digunakan, setinggi apapun pendidikan manusia nya, tetap tidak bisa terlepas dari predikat TRADISIONAL.

Banyak sudah upaya yang dilakukan manusia guna melakukan pola kerjasama manusia- hewan dengan lebih menguntungkan sang manusia. Telah banyak sekali para manusia yang dinyatakan ahli dalam pola kerjasama ini, setelah mereka dinyatakan lulus dari perguruan tinggi jurusan hewan. Bahkan beberapa manusia tersebut mendapatkan penghargaan yang jauh lebih tinggi lagi karena sudah berhasil menyelesaikan pendidikan yang jauh melebihi perguruan tinggi. Bermacam ragam keahlian manusia berpendidikan tersebut, mereka bisa tahu jenis makanan apa yang baik buat sang hewan, mereka tahu segala penyakit hewan beserta pengobatannya, mereka tahu bagaimana menyediakan tempat tinggal sang hewan dan kebutuhan  lain sang hewan agar lebih menguntungkan sang manusia. Disisi lain para hewan tidak bisa mengimbangi ke piawai-an sang manusia, mereka tetap menjadi objek, yang hidup matinya tergantung sang manusia, tetap untuk di POTONG kemudian dikonsumsi oleh para manusia. Sehingga se canggih apapun pengetahuan dan peralatan yang dimiliki manusia, pola kerjasama manusia-hewan ini tetap berpredikat USAHA TRADISIONAL.

Disatu sisi para manusia makin tinggi dan luas pengetahuannya, makin di anggap tinggi pula derajat kehidupannya. Dengan sendirinya manusia-manusia tersebut makin lebih banyak  membutuhkan hewan untuk di konsumsi. Mereka tidak lagi makan tempe dan tahu serta sayuran belaka, mereka membutuhkan DAGING untuk meningkatkan gizi pada  menu makanannya. Itu semua berahir pada peningkatan kebutuhan akan hewan POTONG. Kebutuhan ini semakin lama semakin meningkat, seiring dengan peningkatan derajat kehidupan manusia. Sehingga saat ini sangat terasa adanya suatu pergulatan antara penyediaan hewan POTONG dengan kebutuhan manusia. Sebagai konsekuensi logis nya, hewan POTONG  menjadi mahluk yang diperebutkan para manusia. Ketersediaan hewan POTONG belum bisa mencukupi permintaan para manusia.

Disinilah masalah yang sangat menarik untuk dibahas. Pembahasan bisa di lihat dari berbagai sudut pandang, dan latar belakang yang berbeda, dan diyakini pandangan tersebut semuanya benar, disisi lain kenyataan yang ada juga lebih benar, dimana ketersediaan hewan POTONG tetap kurang.

Pola kerjasam hewan-manusia, secara umum disebut sebagai PETERNAKAN, apapun istilah yang di pakai pola tersebut tetap TRADISIONAL. Disisi lain para manusia makin tinggi derajat kehidupannya, berkiprah pada pola kehidupan lain yang sangat canggih, jauh dari pola TRADISIONAL. Bahkan banyak para manusia yang menganggap peternakan yang berpola TRADISIONAL, sebagai KAMPUNGAN, KETERBELAKANGAN. Akibatnya penyediaan hewan POTONG untuk kebutuhannya, menjadi sesuatu yang HARUS DIHINDARI DAN DI HAPUS DARI DAFTAR CITA-CITA generasi penerus manusia. Apakah pola pikir dan pola pandang seperti itu salah atau benar, jawabannya terpulang pada latar belakang manusia yang menilainya. Yang jelas dan nyata, BELUM BANYAK terdengar generasi penerus yang bercita-cita jadi pengusaha TRADISIONAL yang di sebut PETERNAK. Akibat yang pasti bagi generasi tersebut adalah, makin berkurangnya ketersediaan hewan POTONG untuk mereka konsumsi dagingnya. Apakah ini bisa di sebut sebagai KEMAJUAN BUDAYA manusia, atau justru merupakan KEMUNDURAN BUDAYA manusia, atau hanya merupakan KETIDAK SEIMBANGAN BUDAYA manusia.

Masalah SAPI KAMBING DOMBA POTONG ini tidak akan merugikan pihak manapun. SEDIKIT AGAK MEREPOTKAN DI SATU PIHAK, BANYAK MENGUNTUNGKAN DI PIHAK LAINNYA. Mungkinkah philosphy perimbangan ini yang mendasari keberadaan PETERNAK di tanah air INDONESIA. Sehingga pengatur negara tidak atau belum perlu untuk mengambil suatu tindakan atau kebijakan apapun, karena keadaan akan tetap berada dalam suatu KEBERIMBANGAN. Sedangkan ketersediaan SAPI KAMBING DOMBA POTONG TETAP KURANG DAN AKAN SEMAKAIN BERKURANG.

BUKANKAH MASALAH SAPI KAMBING DOMBA POTONG INI MERUPAKAN SUATU KEADAAN YANG SANGAT BAIK BUAT PETERNAK DAN CALON PETERNAK.

CATATAN:                                                                                                                         

PENDIDIKAN - PENGALAMAN - PEKERJAAN - SERTA KEHIDUPAN  YG MENJADI BACKGROUND   PENULIS ADALAH BIDANG YANG SANGAT PADAT TECHNOLOGY MUTAHIR  -  SEDANGKAN CITA-CITA PENULIS ADALAH MENJADI USAHAWAN KAMPUNGAN, TERKEBELAKANG DAN TRADISIONAL, YAITU PETERNAK SAPI KAMBING DOMBA POTONG.  sambil berkelana -- ngamen demi perut

TERIMAKASIH DAN SALAM HORMAT

TONY_SAPI
Sekedar berbagi ilmu dari www.tony_sapi.multiply.com yang sekarang sudah tidak ada lagi
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Kategori

About this blog

Theme Support