"Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya"



Rabu, 02 Juli 2014

KISAH PENGALAMAN SEORANG PETERNAK SAPI

Apr 22, '08 7:49 PM
for everyone

Salam Sapi Boss,
Beberapa tahun silam, saya jalan-jalan melihat kebunku yang penuh dengan bunga di suatu desa. Saat kepanasan dan kecapean, si pengurus kebun menemani berteduh di gubuk sambil berbincang-bincang. Dia mengajukan usul "Boss kita pelihara sapi Boss, beli DUA di gemukin hasilnya bisa beli TIGA" . Dalam pikiran saya "Buset dah, bisnis yang sangat cerah prospeknya, nggak ada salahnya di coba". Walaupun penuh rasa keraguan, apa iya sih, kalau iya kenapa nggak ada yang melakukannya di desa itu. Tapi nothing to loose, worthed to try. Si penjaga kebun sebut saja si RW, sudah punya satu, saya beli satu lagi, nyicil sih belinya. Ternyata bener juga dia bilang , saat di jual kita bisa beli tiga, namun yang satu kecilan. Nggak salah ternyata si RW. Lalu kita bersama membeli tiga sapi, dua betina satu betina anakan. Setelah beberapa saat jumlah sapi jadi LIMA. Wah bener-bener cerah nih usaha.

Mulai dah nekat dikit dengan membeli lebih banyak sapi lokalan artinya beli di pasar lokal deket desa tersebut. Kemudian di besarkan dengan pola mereka alias dengan di kasih makan rumput belaka. Hasil jual untungnya di bagi dua (namanya MARO)
Dalam jumlah yang agak banyak dan di tangani oleh banyak orang inilah MASALAH MULAI TIMBUL.
Pokok masalah yang utama adalah MENTALITAS masyarakat pedesaan yang berpola pikir " KERJA SEKARANG YA HASILNYA JUGA SEKARANG", sedangkan akar masalah untuk ini adalah "beberapa saat" nya itu, ternyata luama buanget. Sedangkan untuk penggemukan dengan pola intensip, mereka nggak ngarti, dianggapnya pemborosan belaka. Ahirnya satu persatu para PENGURUS SAPI tsb berguguran. Mereka minta hasil kerjanya segera di berikan dengan perhitungan setengah dari kenaikan bobot menjadi hak mereka. Permasalahan pertama dapat di selesaikan dengan baik. Which is good, karena dengan demikian akhirnya tersaring juga SDM mana yang mentalitasnya dapat di ajak maju ke arah bisnis.

Penggemukan di teruskan oleh hanya satu SDM yang tersaring , dengan menggunakan pola intensip, makanan utama konsentrat sedangkan rumput hanya sebagai persyaratan guna memperlancar pencernaan sapi.
TERNYATA PENAMBAHAN BOBOTNYA SANGAT MINIM. Saat di jual untung sih untung tapi MINIM, tidak sesuai dengan rencana semula.
Hasil evaluasi, di gemukin berapa tahun pun bobot sapi nggak akan nambah banyak, karena sapinya sapi KAMPUNG. Ibarat orang desa di kasih Hamburger yg pake keju, yang ada mencret-mencret, bukannya gemuk. KESALAHAN ADANYA DI SI SAPI, BUKAN YANG NGURUS.

Setelah mengirim si pengurus untuk magang di beberapa peternakan pola intensip. Dimulailah gelombang berikutnya.

Sapi di pilih jenis yang cepat besar dan bisa besar, pilihan jatuh pada sapi jenis LIMOUSIN dan SIMMENTAL, yang di datangkan dari Jawa Tengah. Menu makanan utamanya konsentrat di campur Ampas Tahu dan lain2nya. Ampas tahu di dapat dari pabrik tahu yang sengaja di dirikan untuk memenuhi kebutuhan sapi dan cari untung tambahan dari jualan tahu sumedang. Nahhhh disini mulai kelihatan peningkatan bobotnya sangat pesat, keuntungan besar mulai terbayang.
Eeeeeehhhhhh tiba2 harga kacang kedelai melonjak nggak terkontrol, pabrik tahu tutup semua, ampas tahu nggak punya. Untung masih banyak singkong, ampas tahu di ganti singkong mentah. Penambahan bobot masih ok. Berarti keuntungan masih Ok lahhhhhh, yang penting ada lebih-lebihnya dikit lahhhh.

Kesimpulan :
1. Untuk beternak dengan sekala agak besar dengan sistim maro dengan masyarakat desa sulit dilakukan, kecuali COST OF MONEY MUST BE NEGLECTED, arti prakteknya -- jangan di targetkan waktunya.

2. Dengan pola intensip dan jenis sapi yang sesuai, biayanya sangat tinggi, namun keuntungannya juga lebih tinggi.

Permasalahan:
1. MENTALITAS SDM. Seperti yang saya uraikan di atas. Ahirnya sulit untuk mengangkat pendapatan masyarakat desa secara makro ( banyak orang). Karena untuk pola intensip ini, SATU orang mampu mengurus DUAPULUH EMPAT SAPI. Yang awalnya 8 orang untuk 24 sapi, kini hanya 1 orang untuk 24 sapi. Makanan full konsentrat, rumput beli atau bayar orang untuk ngarit. Selama ini sih rumput nanem sendiri jadi ngaritnya mudah dan cepat tapi tetap bayar pengaritnya , agar si pengurus bisa konsentrasi di kandang sapi.
Yang bisa menikmati proyek sapi ini ahirnya hanya satu orang yaitu si pengurus, dia mendapat gaji bulanan UMR plus bonus jika keuntungannya melebihi target yang di tentukan, yang lainnya MANYUUUUN dan mohon2 kerjaan, yang tidak akan mungkin saya tampung karena nggak ada kerjaan yang membutuhkan tenaga mereka kecuali ngarit dan kerjaan insidentil.

2. Untuk memperluas sekala peternakan, masalahnya juga MENTALITAS SDM, yang tidak mau kerja jika kandang sapinya agak jauh dari rumahnya yang hanya sekitar satu setengah kilometer. Karena sudah tidak adalagi lahan disekitar rumah mereka untuk kandang yg agak besar (minimum 24 sapi). Alasnnya masuk akal, yaitu takut sapinya di curi orang, karena nggak bisa ngawasin 24 jam.

Jalan keluar untuk perluasan:
Memilih SAPI LIAR (yg tidak di cucuk idungnya dan tidak perlu di ikat meliharanya), sehingga hanya pencuri sapi yang luar biasa mahir dan berani yang akan bisa mencuri. Masalah utamanya untuk ini adalah INVESTASI PEMBUATAN KANDANGNYA SANGAT TINGGI, memerlukan bahan pipa besi yang buanyak sekali, padahal harga besi kan lagi gila2an mahalnya.
Proyek perluasan ini masih saya hitung-hitung dan survey kesana kemari, kalau mulai berjalan kita akan cerita lagi Boss.
Terimakasih dan salam hormat

http://www.sapiology.com
Sekedar berbagi ilmu dari web www.tony_sapi.multiply.com yang sudah tidak ada lagi
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Kategori

About this blog

Theme Support