Jan 6, '08 1:14 AM
for everyone
Dari namanya sudah tercermin ke sengsaraan sang hewan, karena dilahirkan dan dibesarkan kemudian di POTONG, untuk kemudian di konsumsi. Siklus ini berjalan sejak jaman dahulu kala, mungkin juga semenjak manusia ada di bumi. Semakin lama manusia menjadi semakin pandai. Tidak lagi harus berburu hewan, untuk mendapatkan dagingnya. Dengan Akal dan Budi nya, manusia berhasil melakukan kerjasama yang sangat baik dengan hewan-hewan yang akan di makan nya. Manusia menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga hewan-hewan tersebut untuk dapat bertahan hidup menjadi sangat tergantung pada manusia. Bahkan sang manusia lah yang menentukan kapan hewan tersebut boleh hidup dan kapan harus mati, demikian juga dengan seluruh aspek kehidupan hewan tersebut. Betapa besar kekuasaan sang manusia dan betapa kecilnya, bahkan tiada sama sekali kebebasan yang dimiliki sang hewan.
Pola kerjasama manusia dengan hewan ini tidak pernah diketahui kapan mulainya, yang jelas pola ini telah menjadi tradisi yang masih berlaku sampai dengan saa ini, dan akan berlaku terus sampai entah kapan juga tidak ada yang tahu. Karena awal pola kerjasama ini sudah sangat lama, maka jika ada manusia yang sampai saat ini masih menjalankan pola kerjasama ini, mereka akan disebut sebagai manusia yang berusaha dengan pola TRADISIONAL dan terus berkembang menjadi USAHA TRADISIONAL. Se canggih dan semahal apapun sarana yang digunakan, setinggi apapun pendidikan manusia nya, tetap tidak bisa terlepas dari predikat TRADISIONAL.
Banyak sudah upaya yang dilakukan manusia guna melakukan pola kerjasama manusia- hewan dengan lebih menguntungkan sang manusia. Telah banyak sekali para manusia yang dinyatakan ahli dalam pola kerjasama ini, setelah mereka dinyatakan lulus dari perguruan tinggi jurusan hewan. Bahkan beberapa manusia tersebut mendapatkan penghargaan yang jauh lebih tinggi lagi karena sudah berhasil menyelesaikan pendidikan yang jauh melebihi perguruan tinggi. Bermacam ragam keahlian manusia berpendidikan tersebut, mereka bisa tahu jenis makanan apa yang baik buat sang hewan, mereka tahu segala penyakit hewan beserta pengobatannya, mereka tahu bagaimana menyediakan tempat tinggal sang hewan dan kebutuhan lain sang hewan agar lebih menguntungkan sang manusia. Disisi lain para hewan tidak bisa mengimbangi ke piawai-an sang manusia, mereka tetap menjadi objek, yang hidup matinya tergantung sang manusia, tetap untuk di POTONG kemudian dikonsumsi oleh para manusia. Sehingga se canggih apapun pengetahuan dan peralatan yang dimiliki manusia, pola kerjasama manusia-hewan ini tetap berpredikat USAHA TRADISIONAL.
Disatu sisi para manusia makin tinggi dan luas pengetahuannya, makin di anggap tinggi pula derajat kehidupannya. Dengan sendirinya manusia-manusia tersebut makin lebih banyak membutuhkan hewan untuk di konsumsi. Mereka tidak lagi makan tempe dan tahu serta sayuran belaka, mereka membutuhkan DAGING untuk meningkatkan gizi pada menu makanannya. Itu semua berahir pada peningkatan kebutuhan akan hewan POTONG. Kebutuhan ini semakin lama semakin meningkat, seiring dengan peningkatan derajat kehidupan manusia. Sehingga saat ini sangat terasa adanya suatu pergulatan antara penyediaan hewan POTONG dengan kebutuhan manusia. Sebagai konsekuensi logis nya, hewan POTONG menjadi mahluk yang diperebutkan para manusia. Ketersediaan hewan POTONG belum bisa mencukupi permintaan para manusia.
Disinilah masalah yang sangat menarik untuk dibahas. Pembahasan bisa di lihat dari berbagai sudut pandang, dan latar belakang yang berbeda, dan diyakini pandangan tersebut semuanya benar, disisi lain kenyataan yang ada juga lebih benar, dimana ketersediaan hewan POTONG tetap kurang.
Pola kerjasam hewan-manusia, secara umum disebut sebagai PETERNAKAN, apapun istilah yang di pakai pola tersebut tetap TRADISIONAL. Disisi lain para manusia makin tinggi derajat kehidupannya, berkiprah pada pola kehidupan lain yang sangat canggih, jauh dari pola TRADISIONAL. Bahkan banyak para manusia yang menganggap peternakan yang berpola TRADISIONAL, sebagai KAMPUNGAN, KETERBELAKANGAN. Akibatnya penyediaan hewan POTONG untuk kebutuhannya, menjadi sesuatu yang HARUS DIHINDARI DAN DI HAPUS DARI DAFTAR CITA-CITA generasi penerus manusia. Apakah pola pikir dan pola pandang seperti itu salah atau benar, jawabannya terpulang pada latar belakang manusia yang menilainya. Yang jelas dan nyata, BELUM BANYAK terdengar generasi penerus yang bercita-cita jadi pengusaha TRADISIONAL yang di sebut PETERNAK. Akibat yang pasti bagi generasi tersebut adalah, makin berkurangnya ketersediaan hewan POTONG untuk mereka konsumsi dagingnya. Apakah ini bisa di sebut sebagai KEMAJUAN BUDAYA manusia, atau justru merupakan KEMUNDURAN BUDAYA manusia, atau hanya merupakan KETIDAK SEIMBANGAN BUDAYA manusia.
Masalah SAPI KAMBING DOMBA POTONG ini tidak akan merugikan pihak manapun. SEDIKIT AGAK MEREPOTKAN DI SATU PIHAK, BANYAK MENGUNTUNGKAN DI PIHAK LAINNYA. Mungkinkah philosphy perimbangan ini yang mendasari keberadaan PETERNAK di tanah air INDONESIA. Sehingga pengatur negara tidak atau belum perlu untuk mengambil suatu tindakan atau kebijakan apapun, karena keadaan akan tetap berada dalam suatu KEBERIMBANGAN. Sedangkan ketersediaan SAPI KAMBING DOMBA POTONG TETAP KURANG DAN AKAN SEMAKAIN BERKURANG.
BUKANKAH MASALAH SAPI KAMBING DOMBA POTONG INI MERUPAKAN SUATU KEADAAN YANG SANGAT BAIK BUAT PETERNAK DAN CALON PETERNAK.
CATATAN:
PENDIDIKAN - PENGALAMAN - PEKERJAAN - SERTA KEHIDUPAN YG MENJADI BACKGROUND PENULIS ADALAH BIDANG YANG SANGAT PADAT TECHNOLOGY MUTAHIR - SEDANGKAN CITA-CITA PENULIS ADALAH MENJADI USAHAWAN KAMPUNGAN, TERKEBELAKANG DAN TRADISIONAL, YAITU PETERNAK SAPI KAMBING DOMBA POTONG. sambil berkelana -- ngamen demi perut
TERIMAKASIH DAN SALAM HORMAT
TONY_SAPI
Sekedar berbagi ilmu dari www.tony_sapi.multiply.com yang sekarang sudah tidak ada lagi






0 komentar:
Posting Komentar